Menko Bidang Perekonomian Optimis Kurs Rupiah Bisa Naik Lagi

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi kurs resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate kembali jatuh dari Rp14,504 menjadi Rp14,535 dalam perdagangan hari Rabu ini (28/November). Kurs USD/IDR di pasar spot juga menanjak 0.12 persen ke level Rp14,527, di tengah meningkatnya antisipasi pasar menjelang sejumlah event penting di luar negeri. Namun, pejabat tinggi Indonesia masih yakin kalau kurs Rupiah punya ruang untuk meningkat kembali.

Kurs Rupiah

Perhatian pasar saat ini berfokus pada jadwal pidato pimpinan Federal Reserve, Jerome Powell, nanti malam, serta rencana rilis notulen rapat FOMC 7-8 November pada hari Kamis waktu setempat. Pasar berharap, kedua event tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai berapa kali kenaikan suku bunga AS tahun depan. Padahal, kenaikan suku bunga AS diketahui sebagai salah satu penyebab utama kejatuhan nilai tukar mata uang – mata uang negara berkembang sejak tahun 2017 lalu.

Selain itu, pertemuan negara-negara G20 di Buenos Aires pada 30 November-1 Desember juga menjadi sorotan. Pasalnya, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan berjumpa untuk mendiskusikan masalah perdagangan kedua negara. Baik positif maupun negatif, hasilnya bisa berimbas besar secara global, karena perang dagang antara kedua perekonomian raksasa itu dapat menyeret berbagai kawasan lain, termasuk negara berkembang seperti Indonesia.

Baca Juga:   USD / JPY Turun Di Perdagangan Asia

Terlepas dari itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, optimis kalau kurs Rupiah masih punya ruang untuk menguat lagi, sehubungan dengan meningkatnya arus dana masuk ke dalam negeri. Sebagaimana dikutip oleh media nasional Liputan6.com, hari ini ia mengatakan, “Masih ada ruang (untuk menguat). Tapi kan kami juga tidak berhabis-habisan untuk memperkuat sekuat-kuatnya langsung, yang penting sudah ada capital inflow.”

Walaupun mengakui bahwa pihaknya belum memastikan berapa fundamental kurs Rupiah terhadap Dolar AS yang sebenarnya, tetapi menurutnya, “Yang penting sudah ada capital inflow, sehingga dia beli kembali saham kami, SUN (Surat Utang Negara) kami, dan kurs paling tidak menguat lagi. Dengan begitu, defisit transaksi berjalan bisa ditutup oleh surplus transaksi modal dan finansial. Kalau itu terjadi, sebenarnya selesai.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply