Minat Risiko Meningkat, Dolar Australia Naik Pesat Jelang G20

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia melonjak lebih dari 0.4 persen ke kisaran 0.6960 terhadap Dolar AS dalam perdagangan hari Senin ini (24/6), bersama dengan rekannya Dolar New Zealand dan Dolar Kanada. Selain karena Greenback masih ditekan oleh bias dovish bank sentral AS, apresiasi mata uang-mata uang komoditas ini juga didorong oleh kenaikan minat risiko pasar menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di ajang KTT G20 Osaka.

Dolar Australia Naik Pesat Jelang G20

Sepanjang pekan lalu, sejumlah bank sentral terkemuka kompak menyampaikan pernyataan bernada dovish, termasuk diantaranya bank sentral AS (Federal Reserve), bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB), dan bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ). Pernyataan mereka menjadikan bank sentral Australia bukan satu-satunya otoritas moneter yang merencanakan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Hal ini sedikit melonggarkan tekanan atas Aussie di tengah ketegangan pasar menantikan pertemuan Trump dan Xi beberapa hari ke depan. Sejumlah pakar masih ragu kalau pertemuan itu akan membuahkan hasil signifikan, tetapi petunjuk apapun yang mengarah kepada sebuah resolusi bisa jadi bakal ditanggapi semarak oleh pelaku pasar.

Baca Juga:   Pound Tergelincir Lebih Rendah Terhadap Dolar

Sementara itu, dari dalam negeri Australia, gubernur RBA Philip Lowe tadi pagi menghimbau agar pemerintah Australia menyiapkan paket stimulus fiskal guna menanggulangi perlambatan ekonomi. Menurutnya, pemerintah semestinya memanfaatkan kondisi suku bunga rendah saat ini untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur.

“Apabila pemerintah bisa membangun kapasitas produktif dengan meminjam dana dengan suku bunga rendah, (maka) nampaknya itu adalah suatu langkah yang bagus untuk diambil,” kata Lowe, “Pemerintah di sini dan di seluruh dunia perlu menyiapkan laci penuh dengan ide-ide yang sangat bagus dan siap untuk dikeluarkan saat pertumbuhan melambat.”

Lowe menegaskan bahwa bank sentral seharusnya tidak diharapkan untuk bertanggung jawab atas semua stimulus melalui kebijakan moneter. Pemerintah pun perlu menilik program seperti sistem perpajakan dan layanan publik untuk memastikan berlangsungnya inovasi dan kompetisi yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.

“Di luar stimulus fiskal, kebijakan terbaik adalah kebijakan yang mengurangi ketidakpastian dan menciptakan lingkungan positif. Ini tak mudah dilakukan, tetapi juga bukan tidak mungkin,” kata Lowe. Menurutnya, beragam langkah itu penting karena ketidakpastian yang ditimbulkan oleh konflik dagang AS-China telah berdampak besar bagi arus investasi di seluruh dunia.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply