Neraca Dagang Indonesia Ambrol, Kurs Rupiah Anjlok

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) merosot dari Rp14,093 menjadi Rp14,116 pada perdagangan hari Jumat ini (15/2). Kurs USD/IDR di pasar spot mata uang juga meroket nyaris 0.5 persen ke kisaran Rp14,148.

Saat ini, kurs Rupiah berada pada posisi paling lemah sejak tanggal 28 Januari 2019. Pelemahan mulai menajam sejak tanggal 6 Februari dan masih terus berlanjut. Selain didorong oleh membengkaknya defisit neraca transaksi berjalan Indonesia pada kuartal IV/2018 serta merosotnya minat risiko investor global, tekanan depresiasi rupiah juga meningkat karena laporan neraca perdagangan terbaru yang jauh lebih buruk dibandingkan estimasi awal.

Neraca Dagang Indonesia Ambrol, Kurs Rupiah Anjlok

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa defisit neraca perdagangan bulan Januari 2019 membengkak dari 1.10 Miliar menjadi 1.16 Miliar, alih-alih membaik jadi 0.97 Miliar saja. Laju impor berkurang 1.83 persen (year-on-year), sementara pertumbuhan ekspor anjlok 4.70 persen pada periode yang sama. Padahal, impor diperkirakan hanya akan turun 1.05 persen dan ekspor diestimasikan hanya minus 2.54 persen. Ini artinya, kedua variabel menunjukkan kinerja nyaris dua kali lipat lebih buruk dari ekspektasi.

Baca Juga:   AUD Memegang Keuntungan Setelah Lebih Tinggi Dari Perkiraan Harga Produsen Q1

Secara keseluruhan, rangkaian data ekonomi ini mencerminkan lemahnya permintaan dalam negeri dan memburuknya transaksi lintas negara. Walaupun impor migas dan barang konsumsi berkurang dan semestinya menunjang surplus, tetapi laju ekspor melambat dan harga komoditas cenderung rendah.

Pimpinan BPS Suhariyanto mengatakan bahwa harga komoditas-komoditas penting seperti batu bara, tembaga, aluminium, dan besi, menghadapi penurunan dalam periode Desember dan Januari. “Fluktuasi harga komoditas serta perlambatan pertumbuhan ekonomi global telah memengaruhi neraca perdagangan Indonesia,” kata Sihariyanto, sebagaimana dikutip oleh The Jakarta Post. Lanjutnya, “Faktor-faktor ini akan membuat tahun 2019 menjadi tantangan yang lebih besar bagi Indonesia.”

Dalam perdagangan hari ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga merosot nyaris 0.5 persen ke kisaran 6,389.08. Sebanyak delapan dari sembilan sektor saham mengalami penurunan, termasuk sektor Industri Dasar (-1.13 persen), Perdagangan (-0.69 persen), Properti (-1.35 persen), Barang Konsumsi (-0.93 persen), Pertambangan (-1.38 persen), Agri (-0.82 persen), Aneka Industri (-0.21 persen), dan Keuangan (-0.03 persen). Hanya sektor Infrastruktur yang berhasil mencatat kenaikan tipis sebesar 0.62 persen.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply