Neraca Dagang Jepang Surplus, Ekspor Amat Mengecewakan

Bonus Welcome Deposit FBS

Yen Jepang melemah dalam perdagangan hari ini karena meskipun data neraca perdagangan menunjukkan kondisi surplus, tetapi pertumbuhan ekspor dan impor justru meleset dari ekspektasi. Saat berita ditulis, pasangan mata uang USD/JPY naik tipis sekitar 0.05 persen pada level 111.53, sementara EUR/JPY melonjak 0.32 persen ke kisaran 126.60.

Neraca Dagang Jepang Surplus, Ekspor Amat Mengecewakan

Menurut laporan Kementrian Keuangan Jepang, neraca perdagangan mengalami surplus 338.0 Miliar Yen pada bulan Februari, setelah sebelumnya sempat defisit selama empat bulan beruntun. Akan tetapi, ekspor merosot lagi sebesar 1.2 persen (Year-on-Year), setelah anjlok 8.4 persen dalam periode sebelumnya. Impor juga menurun 6.7 persen (Year-on-Year) seiring dengan merosotnya harga minyak dunia.

Lemahnya ekspor mengindikasikan masalah yang lebih besar, karena berhubungan dengan lesunya permintaan dari China.

“Kita jelas sekali melihat dampak dari perlambatan ekonomi China,” kata Takeshi Minami dari Norinchukin Research Institute, “Ekspor diperkirakan terus menurun selama beberapa waktu. Hal itu bisa memukul belanja modal dan membatasi kenaikan gaji dalam negosiasi (saat rekrutmen) karyawan.”

Baca Juga:   Dolar Memegang Keuntungan Setelah Laporan Ekonomi Campuran AS

Menurut laporan kantor berita Kyodo, sejumlah ekonom bahkan memperkirakan kalau lemahnya ekspor bisa mengakibatkan kontraksi Gross Domestic Product (GDP) untuk periode Januari-Maret. Padahal, PM Shinzo Abe telah mengutarakan niatnya untuk menaikkan pajak konsumsi dari 8 persen menjadi 10 persen pada bulan Oktober, dan langkah tersebut tak dapat diambil jika GDP Jepang mengalami perlambatan.

Dalam catatan berbeda, data produksi industri Jepang juga masih mengalami perlambatan, meskipun pertumbuhannya lebih tinggi dari ekspektasi. Laju output industri tercatat -3.4 persen (Month-over-Month) dalam bulan Januari, hanya sedikit lebih baik ketimbang ekspektasi yang dipatok pada -3.7 persen.

Secara keseluruhan data-data ekonomi makro ini mengonfirmasi bias dovish dalam arah kebijakan moneter bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ). Pekan lalu, BoJ telah merevisi ekspektasi neraca perdagangannya serta mengakui bahwa sejumlah aspek ekonomi bisa terdampak oleh perlambatan ekonomi China. Meski demikian, mereka tak mensinyalkan program pelonggaran moneter tambahan, karena suku bunga sudah berada dalam teritori negatif dan program pembelian obligasi masih terus berlangsung dalam besaran yang dianggap paling tepat dengan kondisi ekonomi terkini.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply