Neraca Transaksi Berjalan Jebol, EUR/USD Ambrol

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang EUR/USD merosot sekitar 0.25 persen ke kisaran 1.1280 menjelang akhir sesi Eropa hari Selasa (19/2), setelah data neraca transaksi berjalan Zona Euro dilaporkan mengalami penurunan surplus yang cukup parah. Euro juga melemah terhadap Franc Swiss, Pound Sterling, serta Yen Jepang lantaran data tersebut meningkatkan indikasi kerentanan kondisi ekonomi kawasan.

Neraca Transaksi Berjalan Jebol, EUR/USD Ambrol

Bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) melaporkan bahwa neraca transaksi berjalan (Current Account) merosot dari 22.7 Miliar menjadi 16.2 Miliar pada bulan Desember 2018. Padahal, konsensus awalnya memperkirakan penurunan tipis saja hingga 21.4 Miliar.

Ini artinya, total neraca transaksi berjalan Zona Euro sepanjang tahun 2018 hanya sebesar 343 Miliar Euro saja, atau setara dengan 3 persen dari GDP Zona Euro; lebih rendah dari raihan 362 Miliar Euro pada tahun 2017.

Penyebab utama kemerosotan adalah jatuhnya surplus perdagangan barang pada akhir tahun 2018, selain penurunan investasi asing di sektor riil dan keuangan. Investor asing hanya membeli sekuritas kawasan Euro senilai 38 Miliar Euro, anjlok dibandingkan pembelian sebesar 374 Miliar Euro yang ditunaikan pada tahun 2017. Untungnya, kolapsnya minat atas sekuritas Zona Euro diredam oleh rendahnya pelarian dana-dana domestik ke luar kawasan.

Baca Juga:   Berita Saham BNGA SELASA 13/02/2018

“Neraca keuangan memerah, mencerminkan volatilitas ekstrim di pasar pada akhir tahun,” kata Claus Vistesen, pimpinan ekonom Zona Euro di Pantheon Macroeconomics. Lanjutnya, “Hal yang sama terjadi pada arus FDI (Foreign Direct Investment), dimana investor asing adalah penjual besar netto atas aset-aset Zona Euro pada Desember, meningkatkan tekanan sejak November.”

Akhir tahun 2018 lalu, pasar keuangan global memang tengah dilanda volatilitas ekstrim sebagai imbas dari perlambatan ekonomi yang parah di Zona Euro, ketidakpastian Brexit, serta kebijakan perdagangan AS yang kontroversial. Secara khusus, langkah bank sentral Eropa untuk menghentikan stimulus moneter juga menjadi salah satu faktor yang mendorong investor untuk menjual aset-aset keuangan berdenominasi Euro pada saat itu.

Ke depan, outlook kebijakan bank sentral Eropa masih akan menjadi sorotan pelaku pasar, di samping pemantauan lain terkait dinamika ekonomi setempat. Stagnasi di Jerman serta resesi di Italia juga telah membebani kurs Euro, dan diekspektasikan takkan sirna dalam waktu singkat.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply