Notulen RBA Jatuhkan AUD Ke Level Terendah Sejak Januari 2016

Bonus Welcome Deposit FBS

Hari ini (18/6), Dolar Australia terperosok ke level terendahnya dalam hampir satu dekade yang terakhir kali sempat dikunjungi sejenak pada bulan Januari 2016. Penyebabnya adalah notulen rapat kebijakan Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang memaparkan serangkaian alasan untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa, pasangan mata uang AUD/USD masih lumpuh dekat kisaran 0.6838, sedangkan AUD/NZD merosot 0.25 persen ke kisaran 1.0526.

Notulen RBA Jatuhkan AUD Ke Level Terendah Sejak Januari 2016

Notulen yang dirilis oleh RBA mengungkapkan bahwa peserta rapat kebijakan bulan Juni menilai suku bunga “lebih mungkin” untuk turun di periode yang akan datang. Ini merupakan pernyataan yang sangat eksplisit mengenai prospek pemangkasan suku bunga, meski pelaku pasar sudah memperkirakan RBA akan melakukannya pada bulan Juli atau Agustus. Selain itu, para pejabat RBA juga mengakui bahwa suku bunga bukanlah satu-satunya instrumen kebijakan moneter yang dapat digunakan untuk mendorong tingkat pengangguran agar menurun lebih lanjut.

Akhir tahun lalu, Gubernur Deputi RBA, Guy Debelle, telah mencetuskan opsi Quantitative Easing (QE) untuk menstimulasi perekonomian Australia, dengan mengikuti jejak sejumlah bank sentral lain seperti ECB dan Federal Reserve. Notulen RBA kali ini tak menyebutkan apakah opsi Quantitative Easing itulah yang dimaksud sebagai instrumen kebijakan alternatif. Namun, nada pernyataan RBA membuat pelaku pasar mempertimbangkan prospeknya.

Baca Juga:   Berita Saham MEDC SENIN 29/01/2018

Di sisi lain, notulen juga memaparkan sejumlah aspek yang bisa jadi membuat RBA lebih memilih instrumen alternatif ketimbang memodifikasi suku bunga lagi. Salah satunya, “Anggota (rapat) mengetahui bahwa banyak orang Australia yang berusia tua mengandalkan pendapatan berbasis bunga yang akan menurun jika suku bunga lebih rendah.”

Efek penurunan suku bunga terhadap pendapatan rumah tangga itu bisa semakin menggerogoti daya beli masyarakat Australia. Padahal, kondisi berbagai sektor industri saat ini kurang prima karena besarnya ancaman efek perang dagang AS-China terhadap outlook pertumbuhan ekonomi global. Sebagai salah satu negara berbasis ekspor, Australia menghadapi risiko penurunan harga komoditas dan permintaan global yang dapat memengaruhi outlook pertumbuhan ekonomi domestik juga.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply