Pakar Mensinyalir Reli Euro Takkan Bertahan Lama

Bonus Welcome Deposit FBS

Mata uang Euro melanjutkan kenaikannya versus Dolar AS pada perdagangan hari Selasa ini (25/September), setelah pernyataan pimpinan bank sentralnya kemarin memicu aksi beli EUR/USD. Pasangan mata uang yang paling populer di dunia tersebut tercatat meningkat lebih dari 0.20 persen ke 1.1775 menjelang sesi New York, sementara EUR/JPY juga naik 0.24 persen ke 132.83 dan EUR/GBP cenderung stagnan.

Pakar Mensinyalir Reli Euro Takkan Bertahan Lama

Euro berbalik bullish awal pekan ini, karena pimpinan bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB), Mario Draghi, menyampaikan optimismenya mengenai pencapaian target inflasi dan laju kenaikan gaji di kawasan Zona Euro. Dalam pidatonya di hadapan Parlemen Eropa, Draghi mengungkapkan bahwa outlook harga-harga barang dan jasa telah membaik dalam beberapa waktu belakangan, sehingga inflasi bisa mencapai 1.8 persen pada akhir tahun 2020.

“Inflasi dasar diekspektasikan meningkat lebih lanjut dalam beberapa bulan ke depan, karena pengetatan di pasar tenaga kerja akan mendorong pertumbuhan gaji,” papar Draghi, “Profil yang stabil ini mengimbangi penurunan kontribusi dari komponen non-inti dalam indeks inflasi umum, dan (menandakan) kenaikan yang relatif tinggi dalam inflasi inti.”

Baca Juga:   Dolar Memperpanjang Kenaikan Terhadap Yen Setelah Komentar Mnuchin

Apabila asumsi tersebut terealisasikan, berarti target inflasi 2 persen yang dipatok ECB sudah di depan mata.
Akan tetapi, para analis di Commerzbank, salah satu bank terbesar di Eropa, menilai bahwa reli Euro takkan bertahan lama. Pasalnya, Draghi sebenarnya sama sekali tak menyinggung soal kelesuan inflasi saat ini, melainkan hanya menyampaikan proyeksi masa depan yang belum tentu tercapai bila inflasi tetap loyo.

“Beberapa orang hanya mendengar apa yang ingin mereka dengar. Itulah yang terjadi kemarin, ketika Euro menguat setelah pasar mendengar ‘kenaikan kencang’ dalam kaitannya dengan inflasi Zona Euro dari Presiden ECB Mario Draghi. Sayangnya, Draghi tak berbicara soal tren inflasi saat ini, melainkan hanya asumsi yang menjadi dasar kebijakan ECB dalam jangka panjang,” ujar Thu Lan Nguyen, seorang analis dari Commerzbank.

Nguyen dan timnya di Commerzbank mengungkapkan bahwa pasar menilai pernyataan Draghi di luar konteks sesungguhnya. Padahal, semestinya pernyataan itu dianggap agak dovish, karena tren inflasi aktual di Zona Euro tak sesuai dengan ekspektasi ECB.

Baca Juga:   Dolar Diperdagangkan Dalam Kisaran Sempit Karena Investor Menunggu Keputusan Suku Bunga Fed

Inflasi Zona Euro naik ke 2 persen pada bulan Agustus, turun dari 2.1 persen pada periode sebelumnya. Inflasi Inti juga turun 10 basis poin ke level 1 persen saja pada kurun waktu yang sama. Kenaikan inflasi hingga 2 persen tahun ini pun didongkrak oleh harga minyak yang cenderung volatile.

Senada dengan Nguyen, Claus Vistesen dari Pantheon Macroeconomics juga mencatat dalam sebuah nota untuk klien yang dikirim pada bulan Agustus, “Efek mendasar dari harga minyak mengindikasikan bahwa inflasi energi akan jatuh lebih jauh, menyeret inflasi utama menuju 1.6 persen pada akhir tahun. Inflasi inti kemungkinan naik tipis ke 1.3 persen, tetapi risiko masih condong pada penurunan, dikarenakan masih rendahnya inflasi barang dan tekanan pada inflasi jasa, khususnya layanan pendidikan Jerman dan sewa rumah di Prancis.”

Tim Commerzbank menilai lemahnya inflasi akan terus menekan nilai tukar Euro terhadap Dolar hingga kuartal I/2019. Proyeksi mereka menyebutkan bahwa EUR/USD akan mengakhiri tahun 2018 pada 1.16, naik jadi 1.18 pada Maret 2019, kemudian baru akan mencapai 1.26 pada akhir tahun depan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply