Pasca GDP, Dolar AS Bertahan Di Level Tertinggi 10 Pekan

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) mengambang di level tertinggi 10 pekan, pasca rilis data Gross Domestic Product (GDP) dan serentetan data ekonomi lainnya pada awal sesi New York hari Jumat ini (26/Oktober). DXY terpantau naik tipis 0.05 persen ke level 96.65 saat berita ditulis, cenderung melandai karena kuatnya GDP dihadapkan pada buruknya indeks harga PCE.

Pasca GDP Dolar AS Bertahan Di Level Tertinggi 10 Pekan

US Bureau of Economic Analysis melaporkan bahwa GDP Amerika Serikat mengalami pertumbuhan 3.5 persen dalam kuartal III/2018 (First Estimate). Angka tersebut lebih tinggi dibanding ekspektasi awal yang dipatok pada 3.3 persen, meskipun lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan 4.2 persen pada kuartal kedua. Namun, indeks Harga PCE yang dipublikasikan dalam waktu bersamaan, tercatat hanya tumbuh 1.60 persen; alih-alih 2.00 persen sebagaimana diperkirakan sebelumnya.

Indeks Harga PCE merupakan indikator inflasi yang paling disukai oleh bank sentral AS (Federal Reserve) sebagai referensi pertimbangan kebijakan mereka. Pertumbuhan indeks harga PCE yang lebih lambat daripada ekspektasi ini, dengan sendirinya memunculkan bibit-bibit keraguan mengenai apakah Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga lagi pada bulan Desember mendatang.

Baca Juga:   Keuntungan Kiwi Atas Data Penjualan Ritel, Data Pinjaman China

Tak lama kemudian, University of Michigan merilis indeks Sentimen Konsumen (Consumer Sentiment) yang juga meleset dari ekspektasi. Sentimen Konsumen AS pada bulan Oktober lalu jatuh dari 99.0 menjadi 98.6, walaupun indeks Ekspektasi Konsumen meningkat dari 89.1 menjadi 89.3.

Dinamika yang ditampilkan oleh data-data ekonomi ini agak menekan Dolar AS, tetapi agaknya belum cukup kuat untuk mengusik tren apresiasi Dolar AS, apalagi di tengah merosotnya minat risiko akibat kemerosotan Yuan ke level terendah dalam satu dekade pada sesi Asia tadi pagi.

Sentimen buruk kembali melanda pasar finansial dunia, setelah merebaknya kabar bahwa kurs USD/CNY yang di-fixing oleh bank sentral Tiongkok ditutup pada 6.9510, mendekati level kunci 7.0000. Kabar ini dikhawatirkan akan memperburuk ketegangan perdagangan antara AS-Tiongkok, sebab pemerintahan Trump bisa jadi menilainya sebagai upaya Beijing untuk membalas bea impor yang telah diberlakukan antara kedua negara, dan boleh jadi pula akan mengambil langkah balasan karenanya. Padahal, dalam situasi ketika pasar bergejolak, maka investor akan cenderung mengalihkan portofolionya pada aset-aset Safe Haven, termasuk Dolar AS.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply