Pasca GDP, Indeks Dolar Beranjak Dari Level Terendah Satu Bulan

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar (DXY) beranjak naik pada perdagangan sesi Eropa hari Rabu (29/Agustus), pasca rilis data GDP Kuartal II/2018 malam ini. Lonjakan indeks CB Consumer Confidence dari 127.9 menjadi 133.4 yang dirilis kemarin dan sejumlah faktor lain turut menopang penguatan tersebut.

Dolar Beranjak Dari Level Terendah Satu Bulan

Indeks Dolar AS terpantau naik 18 persen ke level 94.89 dalam perdagangan intraday, beberapa menit setelah pertumbuhan GDP AS (preliminer) dilaporkan naik 4.2 persen (QoQ), melampaui estimasi yang dipatok pada 4.0 persen. Dolar juga menang versus sejumlah mata uang mayor lainnya. Pasangan mata uang EUR/USD menurun 0.26 persen ke 1.16631, sementara AUD/USD anjlok 0.58 persen ke 0.7295 dan USD/JPY menanjak 0.06 persen ke 111.25. Hanya GBP/USD yang bertahan melawan Greenback, berkat optimisme PM Theresa May mengenai prospek Brexit dan kemungkinan Mark Carney memperpanjang masa jabatannya sebagai Gubernur BoE.

Sebelumnya, Greenback telah merosot ke level terendah satu bulan, lantaran berbagai krisis politik di Washington yang timbul akibat disidangnya sejumlah kroni Presiden AS Donald Trump. Namun, setelah beberapa waktu berlalu, belum nampak kalau Presiden Trump akan ikut diseret ke pengadilan.

Baca Juga:   BERITA SAHAM JUMAT 31/08/2018 - BEI CERMATI POLA TRANSAKSI SAHAM MAJAPAHIT INTI CORPORA

Di sisi lain, pidato pimpinan bank sentral AS (Federal Reserve) minggu lalu dianggap kurang agresif, sehingga sempat melumpuhkan Dolar. Namun, agaknya sebagian investor sadar telah bereaksi berlebihan dalam menanggapi pidato tersebut. Meskipun Jerome Powell kurang agresif, tetapi nyatanya Federal Reserve masih menjadi satu-satunya bank sentral negara maju yang akan menaikkan suku bunga lagi dalam tahun ini.

Di tengah berbagai spekulasi tersebut, konflik dagang dengan Tiongkok masih menjadi fokus pelaku pasar. Meski investor merasa lega mengenai ketidakpastian kesepakatan NAFTA setelah tercapainya persetujuan antara Amerika Serikat dan Meksiko, tetapi masih ada kekhawatiran mengenai konflik dagang dengan Tiongkok. Hal ini mendorong kembalinya minat pasar bagi Dolar AS, karena Paman Sam diproyeksikan berada pada posisi yang lebih baik ketimbang negeri Tirai Bambu.

“Kesepakatan (dengan Meksiko) merupakan kemajuan menjelang pemilihan umum sela di Amerika Serikat. Pertarungan Trump yang sesungguhnya adalah dengan Tiongkok,” ungkap pakar strategi MUFG, Lee Hardman, pada Reuters, “Kami melihat ada alasan untuk berhati-hati. Pertarungan sesungguhnya masih lama dan tak jauh dari sekarang, perhatian investor akan kembali pada konflik yang lebih meresahkan dengan Tiongkok.”

Baca Juga:   AUD Memegang Keuntungan Setelah Lebih Tinggi Dari Perkiraan Harga Produsen Q1

Pada tanggal 5 September 2018, Presiden Trump dijadwalkan menyampaikan pidato publik mengenai pengenaan bea impor baru atas barang-barang dari Tiongkok senilai total USD200 Miliar. Apabila bea impor tersebut benar-benar diumumkan, maka pemberlakuannya bisa dimulai akhir bulan September.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply