Pejabat ECB Sinyalkan Peluncuran Program TLTRO Baru

Bonus Welcome Deposit FBS

Dalam perdagangan hari Senin ini (18/2), Euro berupaya bangkit dari kisaran dekat level terendah dua tahun. Pasangan mata uang EUR/USD telah menanjak sekitar 0.30 persen ke kisaran 1.1327, sedangkan EUR/GBP relatif stabil di kisaran 0.8760, dan EUR/JPY meroket 0.35 persen ke kisaran 125.20 pada pertengahan sesi Eropa. Namun, outlook fundamental Euro masih suram karena bank sentralnya dikabarkan akan kembali meluncurkan program TLTRO baru.

Pejabat ECB Sinyalkan Peluncuran Program TLTRO Baru

Dua pejabat bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) mengindikasikan bahwa mereka akan kembali meluncurkan program Targeted Long-Term Refinancing Operations (TLTRO). Masalahnya, kebijakan moneter yang sudah ada saat ini kemungkinan kurang memadai guna menanggulangi perlambatan ekonomi yang lagi-lagi melanda kawasan Euro.

Pada hari Jumat, anggota dewan gubernur ECB Benoit Coeure mengungkapkan bahwa program TLTRO baru tersebut “sedang didiskusikan”. Kemudian pada hari Minggu, rekannya yang lain, Olli Rehn, juga mengungkapkan dalam sebuah wawancara dengan koran bisnis Jerman bahwa program TLTRO baru termasuk dalam agenda rapat ECB berikutnya pada tanggal 7 Maret 2019.

Baca Juga:   Outlook Mingguan USD / JPY : 20-24 Januari 2014

Menurut Coeure, laju inflasi Zona Euro akan jauh lebih lambat, sementara pelemahan ekonomi akan “lebih parah dan lebih luas” dari ekspektasi. Karena itu, bank sentral perlu menyiapkan perangkat kebijakan tambahan, selain program-program yang sudah dilangsungkan saat ini.

Sementara itu, Olli Rehn yang juga masih menjabat sebagai pimpinan bank sentral Finlandia, mengakui bahwa data-data terkini mensinyalkan perlambatan ekonomi Zona Euro. Ia enggan mengonfirmasi apakah perlambatan ekonomi tersebut akan memaksa ECB menunda rencana kenaikan suku bunga hingga akhir tahun 2020, sebagaimana ekspektasi pasar saat ini. Namun, Rehn mengisyaratkan kalau ECB takkan melakukan pengetatan kebijakan moneter selama target inflasi 2 persen belum tercapai.

Laju inflasi Zona Euro telah melambat hingga mencatat rekor terlemah dalam 8 bulan pada bulan Januari lalu. Pada saat itu, laju inflasi tahunan Zona Euro anjlok dari 1.6 persen menjadi 1.4 persen saja. Rehn mengakui pula lemahnya tekanan inflasi ini, dengan mengatakan bahwa kenaikan gaji tidak terefleksikan dalam laju inflasi inti. Meski demikian, ia mengindikasikan bahwa ECB masih memiliki waktu untuk memantau perkembangan data-data ekonomi ke depan, sebelum melakukan perubahan kebijakan moneter.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply