Pending Home Sales dan Euro Dorong Dolar AS Menguat

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak relatif flat pada sesi Asia dan Eropa hari Kamis ini (25/Oktober), tetapi melonjak seketika setelah rilis data Pending Home Sales yang cemerlang. Saat berita ditulis, DXY mencatat kenaikan 0.26 persen ke level 96.62, sementara EUR/USD melorot 0.13 persen ke 1.1377 dan GBP/USD anjlok 0.40 persen ke level 1.2828.

Pending Home Sales Dorong Dolar AS Menguat

Data pesanan barang tahan lama (Durable Goods Orders) yang dirilis malam ini menunjukkan performa beragam. Dalam basis month-over-month, Durable Goods Orders meningkat 0.8 persen dalam bulan September (lebih tinggi dari perkiraan -1.3 persen), tetapi Core Durable Goods Orders hanya naik 0.1 persen (lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 0.5 persen).

Neraca Perdagangan AS yang dipublikasikan oleh Bureau of Economic Analysis menunjukkan defisit melebar dari 75.46 Milyar menjadi 76.04 Milyar. Selain itu, Initial Jobless Claims mingguan pun meningkat dari 210k menjadi 215k, melampaui estimasi awal yang dipatok pada 214k.

Terlepas dari rentetan kabar buruk tersebut, data Pending Home Sales bulan September melonjak 0.5 persen. Padahal, catatan periode Agustus menunjukkan pertumbuhan -1.9 persen, dan estimasi untuk September hanya -0.1 persen. Pemulihan data perumahan AS ini mengindikasikan situasi perekonomian masih cukup terkendali dan kondusif untuk dilakukannya kenaikan suku bunga lagi oleh Federal Reserve pada bulan Desember mendatang.

Baca Juga:   Dolar Dan Yen Reli Di Tengah Kecemasan Tentang Nasib Huawei

Kabar baik Pending Home Sales memberikan landasan bagi Indeks Dolar AS untuk melejit. Apalagi, pada tempo nyaris bersamaan, pidato Presiden ECB Mario Draghi ditanggapi dingin oleh pelaku pasar, sehingga menumbangkan nilai tukar Euro versus Dolar AS. Porsi pembobotan bagi nilai tukar terhadap Euro yang cukup tinggi dalam DXY, membuat fluktuasi Single Currency dapat berimbas cukup besar terhadap DXY.

Dalam pidatonya, Mario Draghi mengungkapkan keyakinan bahwa kondisi ekonomi mendukung rencana ECB untuk memangkas stimulus moneter mulai akhir tahun ini dan bahwa masalah RAPBN Italia bakal terselesaikan. Namun, ia masih menyisakan ruang untuk mundur dari rencana moneter yang disampaikan dalam pernyataan resmi ECB. Beberapa hal dikutip olehnya sebagai faktor yang perlu diperhatikan bagi dilaksanakannya rencana tersebut; antara lain data-data ekonomi belakangan ini yang lebih lemah dibandingkan ekspektasi, ketidakpastian terkait praktek dagang proteksionisme yang makin marak, kondisi negara-negara berkembang, serta volatilitas pasar.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply