Penguatan Euro Rentan Koreksi Meski Data GDP Sesuai Ekspektasi

Bonus Welcome Deposit FBS

Euro sempat melesat ke kisaran 1.1514 terhadap Dolar AS pada perdagangan hari Kamis ini (31/1), tetapi telah melandai ke kisaran 1.1489 saat berita ditulis. Euro juga terpantau unggul tipis terhadap Poundsterling, tetapi masih terancam koreksi pasca rilis data GDP dan tingkat pengangguran Zona Euro yang menggarisbawahi kenyataan bahwa momentum pertumbuhan telah sirna.

Penguatan Euro Rentan Koreksi Meski Data GDP Sesuai Ekspektasi

Dalam rapat Federal Open Market Commitee (FOMC) yang berakhir dini hari tadi, pejabat bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga pada level 2.50 persen. Tak hanya itu, bank sentral menekankan bias dovish dengan menghapus rencana kenaikan suku bunga secara bertahap. Bahkan, mereka mengungkapkan akan menahan kebijakan dikarenakan perlambatan pertumbuhan global dan lambannya laju inflasi.

Kehati-hatian The Fed ditanggapi dengan aksi jual atas Dolar AS. Sementara itu, mata uang utama lainnya mencatat kenaikan pesat, termasuk Euro. Namun, penguatan Euro masih rentan terkoreksi, karena bank sentralnya kemungkinan tak suka menyaksikan apresiasi nilai tukar mata uang di tengah buruknya momentum ekonomi.

Baca Juga:   Harga Emas Turun Di Tengah Tanda Pelonggaran Ketegangan AS - China

“Efek samping dari Fed yang dovish adalah Euro yang lebih kuat -ini merupakan sesuatu yang akan diperhatikan oleh bank sentral Eropa, dan juga bisa memajukan beberapa keputusan dovish ECB untuk mengontrolnya,” ujar pakar strategi Commerzbank, Rainer Guntermann, kepada Reuters.

Selain itu, pelemahan momentum ekonomi di Zona Euro telah membuat pelaku pasar memprediksi kebijakan moneter bakal terus menerus longgar sepanjang tahun 2019. Hal ini berpotensi membatasi kenaikan Euro dalam jangka menengah.

Menurut laporan preliminer yang dirilis Eurostat, GDP Zona Euro meningkat 1.2 persen (Year-on-Year) pada kuartal keempat tahun 2018. Dalam basis kuartalan, GDP menanjak 0.2 persen, sama dengan perkiraan awal maupun capaian periode sebelumnya. Meski demikian, laju pertumbuhan ekonomi tahunan kali ini merupakan yang terburuk sejak tahun 2015. Tingkat pengangguran Zona Euro pun tetap tinggi pada kisaran 7.9 persen.

Kondisi ekonomi Zona Euro saat ini dilanda berbagai ketidakpastian. Diantaranya risiko imbas keluarnya Inggris dari Uni Eropa, efek domino dari perang dagang AS-China, serta gejolak politik di Prancis dan Italia. Dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi terakhir yang dirilis oleh International Monetary Fund (IMF), Zona Euro diprediksi mengalami pertumbuhan ekonomi paling lambat dibandingkan kawasan adidaya ekonomi lainnya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply