Peningkatan GDP Jepang Tahan Penguatan USD/JPY

Bonus Welcome Deposit FBS

Yen Jepang berhasil menanggulangi penguatan Dolar AS pada sesi Asia hari Senin ini (10/September). Meskipun Greenback mampu menaklukkan mayoritas mata uang mayor lainnya berkat cemerlangnya data Non-farm Payroll hari Jumat, tetapi peningkatan Gross Domestic Product (GDP) Jepang kuartal dua sukses mengerem kenaikan pasangan mata uang USD/JPY.

Hingga awal sesi Eropa, USD/JPY masih tercatat -0.02 persen di kisaran 111.02. Yen Jepang juga menguat versus sejumlah mata uang mayor lainnya. EUR/JPY turun 0.10 persen ke 128.18, sementara GBP/JPY melandai 0.06 persen ke 143.36 dalam perdagangan intraday.

Peningkatan GDP Jepang Tahan Penguatan USDJPY

Tadi pagi, Kantor Kabinet Jepang melaporkan bahwa GDP meningkat sesuai ekspektasi 0.7 persen dalam kuartal II/2018. Dalam basis tahunan, GDP melaju 3.0 persen; meningkat dibanding pencapaian 1.9 persen di kuartal I, sekaligus melampaui ekspektasi awal yang dipatok pada 2.6 persen.

Menurut Nikkei Asian Review, data-data GDP Jepang ini menggarisbawahi bagaimana perusahaan-perusahaan meningkatkan belanja modal untuk mengotomasi produksi, dikarenakan penuaan populasi telah mengakibatkan banyak korporasi kekurangan karyawan. Di saat yang sama, hal itu juga cukup mengkhawatirkan, karena ada risiko dari perang dagang AS-China terhadap pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh investasi seperti ini.

Baca Juga:   Keuntungan Aussie Di Sesi Asia Dengan Perhatian Pada Lonjakan Yuan, Data Pekerjaan AS

Belanja modal (Capital Expenditure) merupakan mesin penggerak GDP Jepang. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Kemetrian Keuangan Jepang, CAPEX bulan April-Juni tumbuh dengan laju tercepat dalam 11 tahun terakhir, khususnya di sektor logistik, industri kimia, dan suku cadang.

Krisis demografi Jepang telah mendorong tingkat pengangguran ke level terendah dalam lebih dari 25 tahun. Sehubungan dengan ini, “perusahaan-perusahaan terus meningkatkan investasi mereka dalam operasional logistik, seperti pusat-pusat distribusi otomatis, dikarenakan kekurangan tenaga kerja,” ungkap Junichi Makino, pimpinan ekonom di SMBC Nikko Securities, Tokyo. Lanjutnya lagi, “Ini sudah jadi tren dalam beberapa tahun terakhir, tetapi meningkat kuat secara khusus pada kuartal kedua (tahun ini).”

Berlawanan dengan tren belanja modal yang terus meningkat, belanja konsumen Jepang tetap lesu dalam kuartal kedua; suatu hal yang dapat dianggap sebagai imbas dari krisis demografi tersebut juga. Dengan demikian, pemasaran produk-produk Jepang ke depan akan mengandalkan penyerapan dari negara-negara lain, alias ekspor. Padahal, di tengah ancaman meluasnya konflik antara AS-China, jalur-jalur perdagangan internasional menghadapi risiko besar.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply