Penjualan Ritel AS Februari 2019 Anjlok, Greenback Melemah

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) selip 0.15 persen ke level 97.97, setelah data penjualan ritel Amerika Serikat dilaporkan merosot pada awal sesi New York hari ini (1/4). Greenback melemah terhadap mata uang mayor lainnya, segera setelah data ini dirilis. Pasangan mata uang GBP/USD mencatat rekor terbaik dengan meningkat 0.68 persen ke level 1.3121, disusul AUD/USD yang naik 0.45 persen ke level 0.7127. EUR/USD juga meningkat 0.2 persen ke level 1.1238, walaupun data inflasi dan manufaktur Zona Euro dirilis amat mengecewakan pada sesi Eropa.

Penjualan Ritel AS Februari 2019 Anjlok

Biro Sensus AS melaporkan bahwa penjualan ritel AS menurun 0.2 persen (Month-over-Month) pada bulan Februari 2019, padahal sebelumnya diperkirakan akan naik 0.3 persen. Penjualan ritel inti (Core Retail Sales) tumbang 0.4 persen, sementara penjualan ritel non-otomotif (Retail Sales ex. Gas/Autos) anjlok 0.6 persen dalam periode yang sama. Padahal, penjualan ritel inti merupakan indikator ekonomi yang pergerakannya paling identik dengan komponen belanja konsumen dalam laporan Gross Domestic Product (GDP).

Baca Juga:   NZD / USD Jatuh Tapi Kerugian Terlihat Terbatas

Semua data penjualan ritel ini lebih buruk dibandingkan ekspektasi dan rekor periode Januari 2019, sehingga memunculkan spekulasi kalau pertumbuhan ekonomi AS mulai macet. Walaupun sejumlah faktor minor lain disinyalir melatarbelakangi penurunan data tersebut, seperti tertundanya pemrosesan pajak pada pertengahan bulan serta cuaca yang lebih dingin.

Data penjualan ritel AS ini sempat rebound pada bulan Januari, tetapi sebenarnya sempat merosot cukup dalam juga pada bulan Desember. Akibatnya, ekspektasi pertumbuhan GDP AS untuk kuartal pertama tahun 2019 cukup lemah. Untuk saat ini, pertumbuhan GDP tahunan untuk kuartal I/2019 diperkirakan hanya mencapai 0.8 persen saja, setelah sempat melaju 2.2 persen pada kuartal IV/2018.

Perlambatan momentum pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, memudarnya efek stimulus fiskal berupa pemangkasan pajak dan peningkatan subsidi sektoral yang diluncurkan Presiden AS Donald Trump pada awal pelantikannya. Kedua, tingkat suku bunga Federal Reserve yang lebih tinggi, meskipun bank sentral telah menyatakan akan menghentikan siklus kenaikan suku bunga berikutnya. Ketiga, konflik perdagangan berkelanjutan antara dengan China yang menghantam sektor agri dan beragam komoditas ekspor AS lainnya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply