Penjualan Ritel dan Brexit Dorong Sterling Melejit

Bonus Welcome Deposit FBS

Poundsterling melesat nyaris 1 persen terhadap Dolar AS dalam perdagangan hari Kamis ini (20/September), setelah data Penjualan Ritel dilaporkan lebih baik dari ekspektasi. Namun, pelaku pasar juga masih menantikan pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa di Salzburg, Austria, mengenai Brexit.

Pounds Melejit

Selain terhadap Dolar AS, Sterling juga menguat versus Euro dan Yen. Pasangan mata uang EUR/GBP merosot 0.30 persen ke 0.8850, sedangkan GBP/JPY melonjak 0.90 persen ke 148.90; menjelang akhir perdagangan sesi Eropa.

Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa pertumbuhan Penjualan Ritel di Inggris pada bulan Agustus mencapai 0.3 persen, walaupun sebelumnya para ekonom mengestimasikan data akan -0.1 persen. Ketangguhan penjualan ritel ini memperkokoh laju tahunan pula. Dalam basis year-on-year, Penjualan Ritel hanya melambat dari 3.8 persen ke 3.3 persen, alih-alih menurun hingga 2.3 persen sebagaimana diperkirakan sebelumnya.

Semua segmen ritel kompak menepis estimasi awal. Pertumbuhan dialami oleh semua jenis produk, kecuali makanan, pakaian, dan BBM. Menurut ONS, hal ini dikarenakan harga di toko mulai terstabilkan.

Baca Juga:   USD / CAD Menguat Namun Tetap Dekat Dengan Palung 2 Minggu

Andrew Wishart, seorang ekonom dari Capital Economics, meyakini akan ada sejumlah penguatan pada belanja konsumen di kuartal ketiga. Apabila terwujud, maka ini akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih luas dalam periode ini. Selain itu, kenaikan penjualan ritel juga seringkali dianggap sebagai indikasi inflasi lebih tinggi yang kemudian kemungkinan akan direspon dengan kenaikan suku bunga oleh bank sentral.

Sementara itu, investor dan trader masih menantikan pertemuan para pemimpin Eropa di Salzburg guna mendiskusikan krisis migran yang melanda kawasan, serta langkah berikutnya dalam negosiasi Brexit.

Tadi sore, menteri kabinet Inggris, David Lidington, sesumbar ada kemungkinan 85-95 persen kesepakatan mengenai Brexit akan dicapai pada bulan Oktober. Kabar tersebut turut berkontribusi melonjakkan Poundsterling. Namun, sebagian pihak khawatir apabila negosiasi tak juga mencapai suatu persetujuan pada November, maka probabilitas “No-Deal Brexit” akan membikin panik pasar yang telanjut optimis. Pasalnya, itu berarti Inggris harus berurusan dengan mitra dagang terdekatnya, Uni Eropa, tanpa perjanjian perdagangan khusus; sehingga melonjakkan biaya bisnis bagi banyak perusahaan dan individual. Sejumlah perusahaan terkemuka bahkan sudah mengemukakan rencana untuk memindah lokasi kantornya apabila terjadi “No-Deal Brexit”.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply