Perekonomian Eropa Makin Kritis, Outlook Euro Memburuk

Afiliasi IB XM Broker

Benua Eropa kini merupakan salah satu kawasan yang paling terdampak oleh epidemi virus Corona (COVID-19) bersama China dan Amerika Serikat. Akan tetapi, berbeda dengan kawasan lain, para pemerintah negara-negara di kawasan ini belum meluncurkan injeksi dana segar dalam jumlah besar untuk menolong warganya dari ancaman kemunduran ekonomi. Situasi ini juga berpengaruh pada Euro.

Saat berita ditulis pada sesi Eropa hari ini (2/4), EUR/USD diperdagangkan melemah 0.4 persen pada kisaran 1.0920-an gegara diseret isu tersebut selama sepekan terakhir. Euro juga terpuruk di rekor terendah dua pekan versus Poundsterling dan Yen Jepang.

Perekonomian Eropa Makin Kritis Outlook Euro Memburuk

Setelah para pemimpin Eropa gagal menyepakati penerbitan obligasi Corona minggu lalu, belum ada wacana penggalangan dana untuk stimulus fiskal baru. Padahal, bunyi sinyal resesi semakin lantang terdengar di kawasan Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa.

“Ketidakmampuan otoritas Zona Euro untuk menyepakati sebuah stimulsu fiskal besar, khususnya dibandingkan dengan aksi tegas di Amerika Serikat dan Inggris, serta kekhawatiran tentang solvabilitas Italia, khususnya setelah komentar mengecewakan Lagarde bahwa peran ECB bukan untuk menutup kesenjangan, juga berkontribusi pada pelemahan EUR,” ujar Athanasios Vamvakidis, pimpinan global bidang strategi forex di Bank of America Merrill Lynch.

Baca Juga:   EUR / USD Turun Sebagai Preps Pasar Untuk Akhir Stimulus Fed

Lanjutnya, “Dalam jangka pendek, apakah langkah agresif yang telah diambil oleh negara-negara Zona Euro untuk membendung virus bekerja atau tidak, akan krusial bagi EUR dan lebih dari itu (termasuk outlook perekonomian kawasan ke depan juga -red),”

BofA Merrill Lynch telah menurunkan forecast-nya untuk nilai tukar Euro tahun ini. Kata Vamvakidis, “Kami telah memperkirakan pelemahan EUR pada kuartal pertama (tahun 2020), tetapi setelah COVID-19 menjadi pandemi global, risiko penurunan bagi mata uang ini telah meningkat.”

Sebagian besar analis mengharapkan para pemimpin Zona Euro untuk sepakat menerbitkan obligasi Corona dalam waktu dekat dengan tujuan menyediakan dana memadai bagi stimulsu fiskal di berbagai negara yang terdampak epidemi. Akan tetapi, negara-negara kaya seperti Jerman dan Belanda menentangnya, karena skema obligasi akan membuat mereka ikut menanggung utang tetangga-nya yang lebih rawan krisis seperti Italia dan Yunani. Pada tanggal 7 April mendatang, para menteri keuangan kawasan akan kembali berunding untuk membahas solusi bagi masalah ini.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply