Perlambatan Inflasi Bikin Outlook Pound Makin Kompleks

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang GBP/USD sempat terguling sekitar 0.5 persen hingga level terendah harian pada 1.2439 dalam perdagangan hari ini (18/9). Posisi Sterling pulih ke kisaran 1.2483 pada awal sesi New York, tetapi masih rentan terkoreksi karena berita-berita negatif dari dalam negeri Inggris dan Uni Eropa.

Perlambatan Inflasi Bikin Outlook Pound Makin Kompleks

Data indeks harga konsumen yang dipublikasikan oleh UK Office for National Statistics (ONS) menunjukkan perlambatan inflasi pada bulan Agustus 2019. Laju inflasi Inggris hanya tumbuh 0.4 persen (Month-over-Month), atau melambat dari 2.1 persen menjadi 1.7 persen (Year-on-Year). Padahal, pelaku pasar sebelumnya memperkirakan laju inflasi tumbuh 0.5 persen (Month-over-Month), atau hanya melambat hingga 1.8 persen (Year-on-Year).

Laporan tersebut dikhawatirkan memantik diskusi mengenai prospek pemangkasan suku bunga lagi. Pasalnya, bank sentral Inggris (BoE) telah menentukan target inflasi tahunan pada level 2 persen. Ketika inflasi gagal mencapai target, maka bank sentral perlu mengambil sikap lebih dovish -hal mana akan cenderung menekan nilai tukar Pound-.

“Pertumbuhan gaji yang kuat masih gagal disalurkan kepada harga-harga. Gangguan produksi minyak Arab Saudi baru-baru ini nampaknya juga takkan mendorong inflasi naik. Meskipun kenaikan harga minyak dari USD60 menjadi USD65 dipertahankan, itu hanya akan menambahkan 0.1 poin untuk inflasi pada akhir tahun. Dan kami mengira output minyak Saudi akan pulih dengan cepat, sehingga minyak kembali ke USD60 pada akhir tahun,” kata Andrew Wishart dari Capital Economics. Ia menambahkan, “Kondisi ini memungkinkan MPC (BoE) menyampaikan nada lebih dovish dalam rapat besok.”

Baca Juga:   Outlook FOREX Mingguan : 15 - 19 Agustus 2016

Sterling telah menguat cukup pesat versus Dolar AS sejak awal bulan Agustus, dan saat ini berada dekat kisaran terkuat sejak akhir Juli. Namun, sebagian apresiasi Sterling didukung oleh outlook kebijakan BoE yang relatif lebih hawkish daripada bank sentral AS (Federal Reserve). Situasi bisa berubah jika BoE ikut-ikutan dovish.

Sementara itu, beberapa pejabat tinggi Uni Eropa menyampaikan testimoni bernada pesimis mengenai brexit kepada anggota parlemen Uni Eropa hari ini. Presiden European Commission, Jean-Claude Juncker, memaparkan eksistensi risiko “nyata” terkait No-Deal Brexit. Sedangkan negosiator Uni Eropa untuk brexit, Michel Barnier, mengingatkan bahwa No-Deal Brexit bukan hanya bakal berdampak buruk bagi Inggris, melainkan juga untuk Uni Eropa.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply