Pertumbuhan Ekonomi Tertekan, Euro Dikhawatirkan Susah Pulih

Bonus Welcome Deposit FBS

Reli Euro terhenti dalam perdagangan sesi Eropa hari Kamis ini (8/November), seiring dengan beranjaknya Dolar AS dari keterpurukan akibat hasil pemilu parlemen. Pasangan mata uang EUR/USD terpantau diperdagangkan nyaris flat di kisaran 1.1430, sementara EUR/GBP juga sideways di sekitar 0.8700, setelah European Commission memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Zona Euro.

Euro Dikhawatirkan Susah Pulih

Hari ini, European Commission mengumumkan memangkas proyeksi pertumbuhan Zona Euro hingga beberapa tahun ke depan akibat berbagai faktor eksternal. Menurut mereka, “Pertumbuhan di Zona Euro diperkirakan akan melambat dari level tinggi 10 tahun pada level 2.4 persen di tahun 2017 menjadi 2.1 persen pada tahun 2018, kemudian melambat lagi menjadi 1.9 persen pada tahun 2019 dan 1.7 persen pada 2020. Pola yang sama diperkirakan akan terjadi pula pada 27 negara Uni Eropa.”

Pada musim panas lalu, European Commission sempat memperkirakan pertumbuhan GDP Zona Euro bakal mencapai 2.1 persen pada 2018, 2.0 persen pada 2019, dan 1.7 persen pada 2020. Namun, kini berbagai masalah dari luar kawasan dikhawatirkan bakal membebani pemulihan ekonomi.

Baca Juga:   EUR / USD Menyentuh Terendah Baru 9 Tahun Setelah ECJ Berkuasa

Faktor yang paling memberatkan muncul dari eskalasi masalah perdagangan global. Presiden AS Donald Trump bukan hanya mengobarkan konflik dalam bidang ini dengan China, melainkan juga dengan Uni Eropa.

Selain itu, kenaikan harga minyak yang mencapai dua digit pada thun 2018, telah meningkatkan inflasi dan bisa menekan angka GDP Riil, apabila tak ada peningkatan pada aktivitas ekonomi. Padahal, pertumbuhan aktivitas ekonomi domestik diestimasikan akan melemah, dikarenakan terjadinya perlambatan pemulihan sektor ketenagakerjaan dan efek samping kebijakan fiskal. Lebih dari itu, ada pula risiko dari negosiasi Brexit yang masih ditarik-ulur antara Uni Eropa dan Inggris.

Kekhawatiran para pejabat tinggi European Commission ini diterjemahkan sebagai sinyal bearish oleh pelaku pasar. Pakar dari bank investasi ternama UniCredit mengungkapkan, “Kami menyaksikan kecondongan pada tekanan penurunan lebih lanjut pada EUR/USD, karena gambaran risiko global saat ini tak mendukung Euro dan masih ada sejumlah ruang bagi pelebaran selisih suku bunga AS dan Uni Eropa pada obligasi bertenor lebih rendah, sehubungan dengan Fed terus menaikkan suku bunga dan proses normalisasi ECB yang akan berlangsung secara sangat bertahap.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply