Pertumbuhan GDP Indonesia Kuartal II/2019 Dinilai Kurang Memuaskan

Bonus Welcome Deposit FBS

Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mengalami pelemahan dari Rp14,203 menjadi Rp14,231 dalam perdagangan hari ini (5/8). Kurs USD/IDR juga melonjak lagi sebesar 0.37 persen ke level Rp14,228. Pelemahan Rupiah kali ini dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal, walaupun data GDP (Gross Domestic Product) sesuai ekspektasi.

Pertumbuhan GDP Indonesia Dinilai Kurang Memuaskan

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan GDP kuartal II/2019 mencapai 5.05 persen (Year-on-Year), lebih rendah ketimbang laju 5.07 persen yang tercatat pada periode sebelumnya. Pencapaian ini selaras dengan konsensus ekonom yang disurvei oleh Reuters. Namun, laju 5.05 persen merupakan pertumbuhan GDP tahunan paling lambat bagi Indonesia dalam dua tahun terakhir.

Sejumlah pihak mengekspresikan keraguan mereka mengenai pencapaian target pertumbuhan 5.3 persen yang dipatok pemerintah untuk tahun 2019, karena kondisi ekonomi domestik dan global yang kian menantang. Indonesia tak terlalu merasakan efek perang dagang AS-China, tetapi jatuhnya harga-harga komoditas seperti minyak sawit telah memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Posisi neraca transaksi berjalan Indonesia yang masih defisit juga membuat Rupiah rentan dilanda aksi jual di tengah gejolak dunia.

Baca Juga:   GBP / USD Naik Lebih Tinggi, PDB Masih Mendukung

Krystal Tan dan Khoon Goh dari ANZ berpendapat, “Meskipun belanja pemerintah, konsumsi swasta, dan pertumbuhan ekspor netto meningkat; semuanya diimbangi oleh pertumbuhan investasi yang lebih lemah dan pertambahan persediaan yang lebih lamban. Hasil (GDP) kuartal II mendukung pendapat kami mengenai pemangkasan suku bunga lanjutan. Namun, sentimen risk-off saat ini menandakan bahwa kemungkinannya kecil bagi Bank Indonesia untuk memangkas (suku bunga) lagi dalam rapat bulan ini (22 Agustus).”

Gareth Leather dari Capital Economics berpendapat senada. Katanya, “Pengetatan moneter (BI) sebelumnya kemungkinan akan terus membebani pertumbuhan, meskipun suku bunga sekarang mulai dipangkas. APBN tahun ini mengisyaratkan kebijakan fiskal takkan mendorong pertumbuhan juga. Sementara itu, kami memperkirakan pelemahan lebih lanjut dalam pertumbuhan global untuk membebani ekspor. Secara umum, meski laporan resmi kemungkinan menunjukkan pertumbuhan stabil di sekitar 5 persen, kami mengekspektasikan pertumbuhan dalam pengukuran kami untuk melambat ke sekitar 4.5 persen tahun ini.”

Sementara itu, keputusan China untuk membiarkan nilai tukar Yuan merosot versus Dolar AS juga menyebarkan kepanikan di kalangan pelaku pasar. Upaya investor untuk menghindari risiko hari ini berefek pada aksi jual terhadap aset-aset berisiko tinggi, termasuk Rupiah. Sebaliknya, aset-aset safe haven seperti Yen Jepang dan Franc Swiss lebih diminati.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply