Pounds Melemah Akibat Memburuknya Data PMI dan Iklim Politik Inggris

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang GBP/USD longsor hampir 0.4 persen hingga membukukan rekor terendah pada level 1.2854 dalam perdagangan hari ini (22/11). Pound juga terpukul versus Euro dan Yen. Posisi EUR/GBP meningkat 0.3 persen ke kisaran 0.8592, sedangkan GBP/JPY anjlok 0.3 persen ke level 139.69. Pelemahan Pound dipicu oleh memburuknya laporan ekonomi dari sektor manufaktur dan jasa, sekaligus menyeruaknya kembali keresahan tentang prospek hasil pemilu Inggris Raya pada tanggal 12 Desember mendatang.

Pounds Melemah Akibat Memburuknya Data PMI dan Iklim Politik Inggris

Laporan preliminer dari lembaga riset terkemuka IHS Markit menunjukkan penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sektor jasa dan manufaktur yang menjadi ujung tombak perekonomian Inggris. PMI Manufaktur mencetak penurunan dari 49.6 menjadi 48.3, sementara PMI Jasa lengser dari level 50.0 ke 48.6. Kedua data PMI tersebut sama-sama meleset dari ekspektasi dan berada dalam kondisi kontraksi atau perlambatan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Secara umum, perlambatan diakibatkan oleh ketidakpastian brexit yang berkepanjangan dan telah mengalami beberapa kali penundaan. Namun, ada tekanan baru pula bagi perusahaan-perusahaan yang berbasis di Inggris, yakni terkait pemilu bulan Desember.

Baca Juga:   BERITA SAHAM JUMAT 19/07/2019 - AKHIR PEKAN IHSG DITUTUP MENGUAT 53,245 POIN KE LEVEL 6.456,54

Artur Baluszynski, pimpinan riset di perusahaan manajemen Henderson Rowe berkomentar, “Data PMI hari ini telah mendorong perekonomian Inggris lebih jauh ke dalam wilayah kontraksi. Brexit, perang dagang, dan ketidakpastian tambahan dari pemilu dini saat ini, telah menggerogoti para pebisnis dan konsumen. Manifesto Partai Labour yang dipublikasikan kemarin, kemungkinan akan semakin menciptakan kekhawatiran bagi perusahaan asal Inggris dan konsumen kelas menengah, yang bisa jadi muncul signifikan dalam data bulan depan, (serta) kemungkinan membuat BoE siaga untuk menstimulasi perekonomian.”

Meski demikian, Samuel Tombs dari Pantheon Macroeconomics mengingatkan agar trader jangan bersikap terlalu bearish terhadap perekonomian Inggris. Menurutnya, data PMI tak terlalu akurat dalam memprediksi data-data ekonomi pemerintah belakangan ini. Laporan PMI dinilai terlalu sensitif terhadap ketidakpastian brexit dan tidak memperhitungkan dua sektor lain yang penting dalam perekonomian, yakni sektor ritel dan pemerintah.

Tombs mencatat bahwa belanja pemerintah telah meningkat tahun ini dan kemungkinan akan meningkat lagi tahun depan, sehingga berpotensi menopang perekonomian. Ungkapnya, “Dikarenakan sifat temporer dari sentimen bisnis (yang dimuat dalam laporan PMI), sedangkan outlook stimulus fiskal -partai manapun yang memenangkan pemilu- dan sinyal baru-baru ini bahwa perekonomian global mulai pulih, kami masih memperkirakan dewan kebijakan bank sentral Inggris untuk tidak memangkas suku bunga selama beberapa bulan ke depan.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply