Pounds Melonjak Berkat Kuatnya GDP Inggris Kuartal II/2018

Bonus Welcome Deposit FBS

Poundsterling menguat terhadap mata uang-mata uang mayor lainnya pada sesi Eropa hari Senin ini (10/September), setelah data Gross Domestic Product (GDP) Inggris dilaporkan mencatat laju pertumbuhan kuartalan tercepat sejak Agustus 2017. Optimisme terkait negosiasi Brexit dengan Uni Eropa juga ikut mendukung Sterling awal pekan ini.

Pada awal sesi New York, pasangan mata uang GBP/USD telah naik 0.81 persen ke kisaran 1.3020an, sementara EUR/GBP merosot 0.38 persen ke 0.8908. Selain itu, Pounds unggul versus Yen, dengan GBP/JPY melonjak 0.88 persen ke 144.70, meskipun tadi pagi Jepang juga melaporkan GDP yang melampaui ekspektasi.

Pounds Melonjak Berkat Kuatnya GDP Inggris

Tadi sore, Office for National Statistics (ONS) melaporkan GDP Inggris meningkat 0.3 persen dalam bulan Juli, naik dari 0.1 persen pada bulan Juni. Angka tersebut melampaui estimasi awal yang dipatok pada 0.2 persen, sekaligus mendorong pertumbuhan kuartalan naik dari 0.4 persen menjadi 0.6 persen sepanjang kuartal II/2018.

Industri Jasa dan Konstruksi Inggris menunjukkan performa terbaik dalam periode tersebut. Sektor Jasa mengalami pertumbuhan 0.6 persen dengan dukungan penjualan ritel dan wholesale. Demikian pula output sektor konstruksi mencatar rekor baru di bulan Juli.

Baca Juga:   Outlook Mingguan EUR / USD : 26 - 30 Mei 2014

Akan tetapi, di sektor Industri, output anjlok karena kenaikan dari pertambangan tak mampu mengimbangi dampak penghentian sementara karena perawatan (maintenance) dan sebab lainnya. Data Produksi Manufaktur yang dirilis bersamaan dengan GDP pun menunjukkan kelesuan di bulan Juli. Pertumbuhan output tercatat -0.2 persen, alih-alih naik 0.2 persen sebagaimana diekspektasikan pasar.

“Ini adalah angka-angka yang hebat dan menandakan masih ada semangat dalam perekonomian Inggris, meskipun ada berita-berita politik yang negatif dan tekanan tinggi dihadapi oleh sektor rumah tangga. Namun demikian, Inggris masih bergumul dengan Jepang dan Italia untuk menentukan negara maju mana yang berkinerja terburuk tahun ini dan tahun depan,” ujar James Knightley, pimpinan ekonom internasional di ING Group. Lanjutnya lagi, “Menurut kami, (meskipun data-data ekonomi bagus) sangat tidak mungkin Bank of England akan menaikkan suku bunganya sebelum Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret tahun depan.”

Saat ini, negosiasi Brexit telah memasuki titik krusial. Sepanjang dua pekan lalu, rumor dari delegasi Inggris maupun Uni Eropa telah berkontribusi pada tingginya volatilitas GBP Cross Pairs, dan hal serupa diekspektasikan akan terus berlanjut hingga kedua belah pihak mencapai suatu kesepakatan tertentu.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply