Pounds Terancam Karena Goyahnya Posisi PM May

Bonus Welcome Deposit FBS

Poundsterling merangkak naik 0.25 persen ke level 1.2807 terhadap Dolar AS dalam perdagangan sesi Eropa hari Jumat ini (16/November). Namun, krisis politik akibat koyaknya kabinet Perdana Menteri Inggris, Theresa May, bisa mengakibatkan penurunan Sterling ke level yang jauh lebih rendah.

Pounds Terancam

Kemarin, Poundsterling sempat reli, setelah PM May mengungkapkan dengan percaya diri bahwa kesepakatan yang disusunnya merupakan hal terbaik dalam negosiasi Brexit, dan telah disetujui oleh anggota kabinet. Namun, sejumlah menteri langsung mengundurkan diri setelahnya, karena mereka menolak mendukung proposal kesepakatan Brexit tersebut.

Krisis politik makin meluas, setelah dikabarkan bahwa perwakilan partai Konservatif (partai asal PM May) sudah nyaris mendapatkan suara penuh untuk mengajukan mosi tidak percaya atasnya. Mosi tidak percaya itu akan mengharuskan digelarnya voting di Parlemen mengenai apakah Theresa May akan terus mempertahankan kedudukannya atau terpaksa lengser.

Sejumlah pakar dari bank-bank investasi terkemuka mengungkapkan bahwa Sterling bakal anjlok jika May kalah dalam voting tersebut. Dan sekalipun ia berhasil memenangkan voting, koalisi PM May akan kehilangan dukungan dari partai minoritas DUP yang saat ini menentang keras proposal kesepakatan yang telah disusunnya, sehingga kemungkinan akan terpaksa menggelar pemilu dadakan.

Baca Juga:   Dolar Mengalami Kenaikan Mingguan Ketiga Atas Taruhan Kenaikan Tingkat Perusahaan AS

Media Inggris, Sky News, mengabarkan “Semua sayap pemerintahan telah diberitahu untuk membatalkan semua rencana hari ini dan kembali ke London, karena seorang narasumber yang dekat dengan kantor partai Konservatif mengatakan bahwa voting atas dasar mosi tak percaya pada Perdana Menteri kemungkinan terjadi sekarang.”

Menyusul kabar tersebut, bias bearish Poundsterling langsung meluas di kalangan pelaku pasar. Hans Redeker, pakar strategi Morgan Stanley, mengungkapkan, “Walaupun outlook jangka panjang GBP masih menarik, (tetapi) kami kurang yakin dalam jangka pendek. Risiko terkait Brexit bisa membuat GBP tetap dalam tekanan aksi jual untuk saat ini.”

Hal serupa dipaparkan oleh analis forex MUFG London, Fritz Loew, “Pergerakan pasar yang berlebihan, merefleksikan peningkatan ketakutan akan hasil ‘No Deal’ (antara Uni Eropa dan Inggris) yang lebih kacau dan bertambahnya kemungkinan (perubahan kepemimpinan menjadi) pemerintahan yang dipimpin Corbyn (dari partai rival May), karena partai Konservatif yang berkuasa terancam terpecah belah karena (ketidaksepakatan) mengenai makna Brexit yang sesungguhnya.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply