Poundsterling Naik Tipis Pasca Rilis Data Ketenagakerjaan Inggris

Bonus Welcome Deposit FBS

Pound menguat hingga 0.1 persen ke kisaran 1.2085 terhadap Dolar AS pada pertengahan sesi Eropa hari ini (13/8), didongkrak oleh rilis data ketenagakerjaan yang jauh lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar. Meski demikian, posisinya masih di dekat level terendah tahun ini. Analis menilai Pound tetap rawan terkoreksi lagi, karena kemelut brexit belum terselesaikan.

Poundsterling Naik Tipis Pasca Rilis Data Ketenagakerjaan Inggris

Menurut UK Office for National Statistics (ONS), jumlah klaim pengangguran di Inggris mengalami penurunan, sedangkan pertumbuhan gaji melesat ke laju tertinggi sejak tahun 2008. Klaim pengangguran bulanan (Claimant Count Change) menyusut dari 31.4k menjadi 28.0k dalam bulan Juli 2019, lebih baik dibandingkan estimasi yang dipatok pada 32.0k.

Kenaikan pendapatan rata-rata (Average Earnings Index) mencetak kenaikan 3.9 persen dalam bulan Juni 2019, meski sebelumnya diperkirakan hanya akan naik 3.8 persen saja. Kenaikan pendapatan plus bonus (Average Earnings Index+Bonus) juga melonjak dari 3.5 persen menjadi 3.7 persen. Walaupun tingkat pengangguran dalam periode ini meningkat dari 3.8 persen menjadi 3.9 persen, tetapi peningkatan gaji masyarakat yang cukup tinggi berhasil menumbuhkan optimisme bagi sejumlah pelaku pasar.

Baca Juga:   Dolar Naik Tajam Karena Para Pedagang Menyaksikan Kesaksian Bernanke

Poundsterling sempat merosot cukup jauh pada pekan lalu, setelah publikasi data GDP Kuartal II/2019 yang menunjukkan pertumbuhan negatif. Cemerlangnya data-data ketenagakerjaan kali ini diharapkan menandai terhentinya perlambatan ekonomi di kuartal ketiga dan membantu Inggris terhindar dari resesi. Namun, sebagian analis memandangnya dengan skeptis.

“Meskipun sebagian besar (pertambahan pekerjaan) adalah paruh waktu, tetapi cukup menggembirakan bahwa perusahaan-perusahaan mempertahankan karyawan mereka, (sehingga) menandakan bahwa mereka mengharapkan aktivitas ekonomi membaik lagi setelah digantung brexit pada kuartal kedua,” catat Andrew Wishart dari Capital Economics. Akan tetapi, ia menambahkan bahwa rekrutmen karyawan berkurang seiring dengan melambatnya perekonomian Inggris, sehingga kondisi ketenagakerjaan bisa jadi akan terkoreksi dalam waktu dekat.

Brexit masih menjadi pokok permasalahan yang paling membebani Poundsterling saat ini. Seiring dengan makin dekatnya deadline brexit pada tanggal 31 Oktober 2019, kekhawatiran yang memuncak kian mempersulit upaya reli Poundsterling. Rebound yang benar-benar bermakna kemungkinan hanya akan terjadi jika Inggris dan Uni Eropa berhasil mencapai kesepakatan tertentu mengenai brexit, atau pemerintah Inggris setuju menggelar referendum brexit kedua.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply