Poundsterling Tertekan Karena Data CPI Tak Capai Target

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang GBP/USD cenderung tertekan di kisaran 1.2888, setelah rilis data Consumer Price Index (CPI) pada pertengahan sesi Eropa hari Rabu ini (13/2). Namun, Sterling belum mengindikasikan perubahan tren yang bersifat signifikan. Indikator inflasi konsumen Inggris tersebut jatuh ke bawah target yang telah ditentukan oleh bank sentral. Meski demikian, Sterling relatif stabil terhadap mata uang mayor lainnya, karena perubahan CPI kali ini diprediksi tidak akan berimbas besar.

Poundsterling Tertekan Karena Data CPI Tak Capai Target

Menurut kantor statistik Inggris, inflasi konsumen merosot 0.8 persen (month-over-month) dalam bulan Januari, meleset dari ekspektasi penurunan 0.7 persen yang diperkirakan oleh pelaku pasar. Buruknya inflasi bulanan berimbas pada ambruknya inflasi tahunan dari 2.1 persen menjadi 1.8 persen (year-on-year) pada periode tersebut. Dalam sekitar 24 bulan belakangan, ini merupakan pertama kalinya inflasi Inggris tumbang ke bawah target 2 persen.

Sementara itu, data inflasi produsen yang dirilis pada tempo bersamaan juga mengecewakan. Producer Price Index (PPI) Input merosot 0.1 persen (month-over-month), sedangkan Output mencatat pertumbuhan 0 persen. Artinya, pelemahan harga barang dan jasa bukan hanya terjadi di tingkat konsumen, melainkan juga produsen.

Baca Juga:   Outlook Mingguan Emas / Perak / Tembaga Berjangka : 06 - 10 Maret 2017

Tumbangnya CPI dan PPI disinyalir dikarenakan lemahnya harga minyak pada beberapa bulan menjelang akhir tahun 2018. Pelemahan harga minyak tersebut mengakibatkan penurunan harga bahan bakar di seantero Inggris pada awal tahun ini.

Pelemahan harga minyak diprediksi hanya sementara saja, sedangkan variabel ekonomi lain dapat mendongkrak inflasi. Sehingga para ekonom menilai kalau data kali ini takkan berimbas besar.

Samuel Tombs dari Pantheon Macroeconomics mengatakan, “Pertumbuhan gaji baru-baru ini kemungkinan akan masuk ke inflasi sektor jasa, yang naik hingga 2.5 persen pada bulan Januari, dari 2.4 persen pada Desember. Karenanya, kami mengekspektasikan inflais inti akan terus mengambang hanya sedikit di bawah target 2 persen selama 2019, sebelum meningkat pada 2020 karena pengetatan pasar tenaga kerja menghasilkan tekanan biaya pada perusahaan-perusahaan.”

Pendapat tersebut diamini oleh ekonom Andrew Wishart dari Capital Economics. Menurutnya, bank sentral Inggris akan mempertahankan rencana kebijakannya untuk merubah suku bunga setelah masalah Brexit usai, walaupun data inflasi Januari memburuk.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply