Prospek AUD Memburuk Lantaran Jeleknya Harga Komoditas

Bonus Welcome Deposit FBS

Dolar Australia mempertahankan kenaikan setinggi 0.13 persen ke level 0.7234 terhadap Dolar AS dalam perdagangan sesi Eropa hari Rabu ini (28/November). Namun, posisinya masih jauh di bawah level tertinggi tiga bulan yang tercapai pada pertengahan bulan ini. Sejumlah pakar mengkhawatirkan outlook Dolar Australia, karena kondisi harga komoditas kini berbalik mengancam mata uang negeri Kanguru tersebut.

Prospek AUD Memburuk Lantaran Jeleknya Harga Komoditas

Di China, harga bijih besi jatuh 6 persen secara mendadak, dan komoditas ini sekarang resmi berada pada teritori bearish. Sebagai negara yang pendapatan ekspor utamanya bersumber dari bijih besi, Aussie terancam terseret dalam keruwetan ini.

Lebih buruk lagi, bijih besi Australia termasuk high-grade, sehingga lebih mahal ketimbang bijih besi dari negara lain. Akibatnya, kejatuhan harga di China bisa berimbas lebih buruk pula bagi Australia. Selain itu, mata uang Dolar Australia saat ini terutama ditopang oleh perdagangan komoditas antara Australia dengan China.

Kejatuhan harga sejumlah komoditas lainnya, termasuk minyak mentah, turut meningkatkan beban atas Dolar Australia. Joseph Capurso, pakar strategi di Commonwealth Bank of Australia, mengatakan, “Meluasnya kejatuhan pada harga-harga komoditas semestinya terus membebani AUD. Brent (sekarang) sudah 30 persen lebih rendah dari level tertinggi bulan Oktober… Kemudian pertemuan G20 serta OPEC mendatang bisa penting sekali bagi harga minyak, dan (imbasnya) mengenai AUD dan CAD.”

Baca Juga:   Euro Turun 1% Sebagaimana Aksi Jual Meningkat Karena Kekhawatiran Brexit

Belakangan ini, relevansi harga minyak bagi Australia meningkat, sebagai dampak dari makin membesarnya industri LNG domestik. Pertumbuhan pesat industri LNG membuat Australia mampu ikut mengekspor komoditas energi, tetapi sekaligus mengakibatkan perekonomian menjadi makin rentan terimbas oleh harga minyak yang volatilitasnya tinggi.

“Dilihat dari melesatnya harga minyak kemarin, partisipan pasar (mungkin) mengekspektasikan akan ada pengumuman pada pertemuan G20 atau OPEC yang mengindikasikan bahwa suplai minyak bakal dipangkas. Berkurangnya suplai minyak bisa mendukung pemulihan harga minyak,” demikian ungkap Capurso.

Dengan demikian, pertemuan G20 yang akan digelar pada akhir pekan besok berpotensi menjadi titik krusial bagi Dolar Australia. Masalahnya, pasar juga mengantisipasi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dengan harapan akan tercapai kesepakatan yang meredakan ketegangan kedua negara mengenai masalah perdagangan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply