Prospek “No-Deal Brexit” Dilibas, Poundsterling Melejit

Bonus Welcome Deposit FBS

Poundsterling menguat 0.50 persen ke kisaran 1.2778 versus Dolar AS pada perdagangan sesi Eropa hari Rabu ini (5/Desember), setelah anggota Parlemen Inggris mengambil langkah signifikan untuk menghapus kemungkinan “No-Deal Brexit”. Sterling juga unggul terhadap Euro dan Yen, dengan EUR/GBP merosot 0.34 persen ke 0.8885 dan GBP/JPY meroket 0.70 persen ke sekitar 144.33; walaupun data PMI Jasa cenderung mengecewakan.

Poundsterling Melejit

Dominic Grieve, mantan jaksa agung yang kini menjabat sebagai salah satu anggota parlemen dari partai konservatif, berhasil menggolkan amandemen baru atas UU Brexit. Berdasarkan amandemen tersebut, parlemen dapat mengambil alih negosiasi Brexit jika proposal yang diajukan oleh Perdana Menteri Theresa May ditolak dalam voting yang akan digelar tanggal 11 Desember mendatang.

Langkah ini mempersulit posisi PM May. Namun, dianggap akan mencegah kemungkinan “No-Deal Brexit”, karena mayoritas anggota House of Commons pasti akan berupaya agar tercapai kesepakatan tertentu sebelum deadline Brexit tiba. Atau, jika tak ada kesepakatan, maka parlemen bisa membatalkan Brexit sama sekali.

Baca Juga:   BERITA SAHAM SENIN 30/07/2018 - BANK MAYAPADA ALAMI PENURUNAN LABA JADI Rp384,58 MILIAR

Bagi Poundsterling, amandemen ini juga amat penting karena potensi “No-Deal Brexit” mengancam perekonomian. Bahkan, menurut skenario yang digambarkan oleh Bank of England (BoE), Sterling bisa jatuh hingga 25 persen apabila hal terburuk itu terjadi.

Di sisi lain, amandemen ini juga meningkatkan kemungkinan pembatalan Brexit. Ekonom Malcolm Barr dari JP Morgan mengatakan bahwa ia memperkirakan probabilitas batalnya Brexit telah meningkat dari 20 persen jadi 40 persen.

“Inggris kini nampaknya punya opsi untuk membatalkan (Brexit) secara sepihak, dan membutuhkan waktu untuk memutuskan sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya,” demikian diungkapkan Barr dalam catatan untuk klien-kliennya.

Perkembangan baru tersebut membuat Sterling mengacuhkan rilis data PMI Jasa tadi sore (WIB). Padahal, IHS Markit mengumumkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sektor Jasa di Inggris mengalami penurunan dari 52.2 menjadi 50.4, alih-alih meningkat sesuai ekspektasi ke 52.5. Menurut Markit, aktivitas bisnis dan pesanan baru bertumbuh dengan laju terlambat dalam dua setengah tahun terakhir. Hal ini merupakan ancaman besar bagi perekonomian Inggris, karena sektor jasa mencakup lebih dari 80 persen aktivitas ekonominya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply