Regulator Ambil Tindakan, Yuan Menguat Meski Profit Industri China Berkurang

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang USD/CNY menurun ke kisaran 6.8923 dalam perdagangan hari Senin ini (27/5), walaupun data laba sektor industri China dilaporkan menciut selama bulan April lalu. Selain karena bursa Amerika Serikat tutup karena libur Memorial Day, penguatan Yuan dalam jangka pendek juga didukung oleh sejumlah faktor lain.

Yuan Menguat Meski Profit Industri China Berkurang

Yuan diperdagangkan menguat sejak pembukaan sesi Asia, setelah Guo Shuqing, pimpinan regulator perbankan dan asuransi China, mengancam para spekulator dalam sebuah pidato hari Sabtu. Katanya, “(Pihak-pihak yang) melakukan short atas Yuan pada akhirnya tak pelak akan menderita kerugian besar.”

Sementara itu, data-data ekonomi China yang dirilis tadi pagi justru menampilkan gambaran situasi yang makin memburuk sebagai akibat dari konflik perdagangan dengan Amerika Serikat. National Bureau of Statistics (NBS) melaporkan bahwa profit industri merosot 3.7 persen (Year-on-Year) pada bulan April 2019, sementara pendapatan sektor manufaktur telah menurun sejak November 2018 seiring dengan menurunnya permintaan global.

Iris Pang dari ING mengatakan kepada Bloomberg bahwa silang pendapat antara AS dan China mengenai Huawei baru-baru ini akan makin menghantam ekspor China serta pendapatan sektor telekomunikasinya. Masalahnya, hal itu meningkatkan kecemasan negara-negara lain mengenai keamanan produk-produk Huawei.

Baca Juga:   NZD / USD Jatuh Dalam Perdagangan

“Seiring berlanjutnya perang teknologi, profit industri China mulai Mei kemungkinan akan merosot lebih cepat (dibandingkan periode Januari-April,” katanya. Ia bahkan menyebut kalau kontraksi hingga 5.0 persen (Year-on-Year) dalam profit untuk periode Januari-Mei bisa saja terjadi.

Dalam rangka menanggulangi perlambatan ekonomi yang diakibatkan oleh perang dagang, Beijing telah meluncurkan beraneka stimulus fiskal. Sementara itu, bank sentralnya juga sudah berulang kali memangkas Reserve Requirement Ratio (RRR) untuk mendorong bank-bank menyalurkan pembiayaan ke perusahaan-perusahaan kecil. Namun, semua itu agaknya hanya mengerem laju perlambatan saja, serta belum mampu mendongrak perekonomian agar rebound kembali.

Ke depan, pelaku pasar akan terus memantau data-data ekonomi dari China untuk mengukur seberapa jauh imbas dari perang dagang dengan Amerika Serikat. Perlambatan yang kelewat parah bisa ikut menyeret nilai tukar mata uang-mata uang negara yang berhubungan dagang erat dengan China, seperti Australia dan New Zealand.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply