Reli Dolar AS Tertahan Pasca Rilis Data Jobless Claims

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) sempat mencapai level tertinggi harian pada kisaran 96.67, tetapi melandai kembali ke kisaran 96.56 setelah rilis data Initial Jobless Claims yang lebih buruk dari ekspektasi. Dolar AS masih unggul versus Euro dan Dolar Kanada, tetapi berbalik bearish terhadap Pounds dan Yen.

Reli Dolar AS Tertahan Pasca Rilis Initial Jobless Claims

Departemen Ketenagakerjaan AS melaporkan bahwa klaim pengangguran mingguan (Initial Jobless Claims) hanya menurun dari 253k menjadi 234k dalam sepekan lalu, alih-alih menurun hingga 221k sebagaimana diperkirakan pelaku pasar sebelumnya. Data klaim pengangguran berkelanjutan (Continuing Jobless Claims) juga hanya melandai dari 1,778k menjadi 1,736k, meski sebelumnya diperkirakan akan turun sampai 1,720k.

Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat memberikan tunjangan pengangguran bagi warga negaranya yang memenuhi syarat tertentu dan tidak memiliki mata pencaharian. Untuk mendapatkan tunjangan tersebut, setiap orang harus terlebih dahulu mengajukan aplikasi tertentu dan melakukan perpanjangan secara berkala. Kenaikan klaim pengangguran mingguan serta klaim pengangguran berkelanjutan merupakan indikasi kalau kondisi ketenagakerjaan AS kemungkinan tak sebaik perkiraan pasar, walaupun data Non-farm Payroll (NFP) minggu lalu lebih baik dari ekspektasi.

Baca Juga:   Poundsterling Dibebani Aksi Risk-Off dan PMI Konstruksi

Terlepas dari itu, posisi Dolar AS saat ini masih dalam area bullish, dikarenakan buruknya fundamental mata uang mayor lain, khususnya Euro dan Australia. Bank sentral AS, bank sentral Eropa, dan bank sentral Australia saat ini sama-sama tak diperkirakan akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, bias kebijakan jangka panjang AS masih bullish, berbeda dengan kedua bank sentral lainnya yang dibebani oleh kian melemahnya momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Tadi sore, European Commission merevisi turun ekspektasi pertumbuhan Zona Euro dari 1.9 persen menjadi 1.3 persen untuk tahun 2018, kemudian baru rebound ke 1.6 persen pada tahun 2020. Hal ini meningkatkan ketidakpastian terkait rencana kebijakan moneter bank sentral Eropa, setelah Italia dinyatakan telah terperosok dalam kondisi resesi.

Sementara itu, gubernur bank sentral Australia kemarin mengakui bahwa pihaknya kemungkinan harus melakukan penyesuaian kebijakan, apabila kondisi ketenagakerjaan melemah, sedangkan inflasi tetap loyo. Pelaku pasar kini memperkirakan kalau RBA akan memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply