RI Luncurkan Aneka Kebijakan Untuk Stabilkan Kurs Rupiah

Bonus Welcome Deposit FBS

Rupiah merupakan salah satu mata uang dengan performa terburuk tahun ini, seiring dengan meningkatnya arus pelarian dana dari negara-negara berkembang ke Amerika Serikat. Pada perdagangan hari Kamis ini (30/Agustus), kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) kembali melemah dari Rp14,643 ke Rp14,655. Posisi pasangan mata uang USD/IDR pada platform FX_IDC bahkan sudah melonjak hingga 14,685. Namun, pemerintah Indonesia telah mulai menjalankan sejumlah kebijakan untuk menstabilkannya.

Pemerintah Luncurkan Aneka Kebijakan Untuk Stabilkan Rupiah

Dalam sebuah wawancara dengan media CNBC, Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita mengungkapkan bahwa setelah mencapai level terlemah dalam tiga tahun terhadap Dolar AS, pihaknya optimis kurs Rupiah akan stabil. Optimisme tersebut disebabkan karena pemerintah akan terus menggunakan kebijakan moneter dan fiskal untuk melindungi mata uang dari ancaman pelemahan lebih lanjut.

Diantara langkah-langkah yang telah diambil adalah kenaikan suku bunga dan penerapan bea impor. Bank sentral menaikkan suku bunga sebanyak empat kali sejak bulan Mei 2018, dan terus menerus menerus menggunakan cadangan devisa untuk menyangga kurs Rupiah. Sementara itu, pemerintah berharap dapat memangkas permintaan valas untuk membayar impor dengan cara menerapkan tarif atas sejumlah barang yang dapat diproduksi di dalam negeri. Eggartiasto juga mengungkapkan bahwa pemerintah masih berkomitmen untuk memangkas defisit anggaran.

Baca Juga:   Dolar Jatuh Karena Euro Bersinar Pada Keputusan ECB Untuk Menunda Stimulus

Meski demikian, sejumlah analis masih meragukan kemampuan Indonesia. Zhu Huani, seorang ekonom di Mizuho Securities, mengatakan, “Meskipun defisit anggaran menyempit, rekam jejak Indonesia dalam pendapatan rendah, (sehingga) boleh jadi terlalu dini untuk menyimpulkan ada perbaikan tren yang jelas.”

Sentimen tersebut diamini oleh lembaga perating kredit, Moody’s, dengan menyatakan bahwa masalah utang Indonesia takkan membaik jika target pendapatan negara tak tercapai. Masalahnya, 41 persen utang pemerintah berupa valas. Ini artinya, jika Indonesia tak mampu meyakinkan pelaku pasar bahwa kondisi keuangannya sehat, maka kurs Rupiah dapat terdepresiasi lebih lanjut. Padahal, pelunasan utang dalam bentuk valas akan makin sulit dilakukan jika Rupiah terus terdepresiasi.

“Oleh karenanya, mendukung keyakinan pasar melalui disiplin fiskal merupakan sesuatu yang krusial bagi profil kredit Indonesia,” ungkap Moody’s dalam laporan yang dirilis baru-baru ini.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply