Setelah Ambruk Pasca FOMC, Indeks Dolar AS Rebound Lagi

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) menguat sekitar 0.3 persen pada kisaran 96.21 dalam perdagangan sesi New York hari ini (21/3), didukung oleh kekhawatiran pelaku pasar mengenai kondisi ekonomi global serta cemerlangnya data-data ekonomi AS. Dolar AS unggul versus Euro dengan posisi EUR/USD menurun 0.22 persen ke level 1.1385, di samping mengungguli mata uang mayor lainnya.

Indeks Dolar AS Rebound Lagi

Seusai rapat bank sentral AS (FOMC) tadi pagi, ketua Fed Jerome Powell menyampaikan pergeseran bias kebijakan moneter menjadi dovish. Grafik dot plot terbaru menggambarkan proyeksi kenaikan suku bunga sebesar nol dalam tahun ini, serta hanya satu kali saja untuk tahun depan. Selain itu, Fed juga bakal menghentikan program pengurangan neraca (balance sheet) dalam semester kedua tahun 2019.

Langkah-langkah Fed tersebut secara efektif menghentikan upaya pengetatan moneter yang telah berlangsung selama hampir dua tahun terakhir. Namun, itu tak berdampak negatif terlalu besar bagi Dolar AS, karena bank sentral mayor lain kemungkinan akan meneladaninya dalam menghadapi ancaman perlambatan ekonomi global saat ini.

Baca Juga:   BERITA SAHAM KAMIS 13/06/2019 - PEMERINTAH DIMINTA AMBIL LANGKAH RELAKSASI FISKAL UNTUK DORONG EKSPOR

“Dua bulan lalu, perubahan (bias) dovish oleh Fed diikuti oleh perubahan dovish (bank-bank sentral) lainnya, (sehingga) menjaga ‘kesenjangan perkiraan kebijakan’ relatif stabil,” ungkap John Velis dari BNY Mellon, “Walaupun (pernyataan pasca rapat FOMC kali ini) tidak positif bagi Dolar, rapat (FOMC) bisa jadi tidak berakhir negatif bagi Dolar karena sebab yang sama.”

Sementara itu, laporan ekonomi asal negeri Paman Sam hari ini cenderung memuaskan. Philadelphia Fed Manufacturing Index melonjak drastis dari -4.1 menjadi 13.7 pada bulan Maret, meskipun sebelumnya diperkirakan hanya akan membaik menjadi 4.6 saja. Sedangkan klaim pengangguran mingguan berkurang dari 230k menjadi 221k, lebih rendah dari ekspektasi awal yang dipatok pada 226k.

Di sisi lain, Dolar AS juga didukung oleh peningkatan keresahan pelaku pasar mengenai perlambatan ekonomi global yang terakselerasi akibat kegagalan damai AS-China dalam hal perdagangan. Berita terbaru menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump akan mempertahankan bea impor tinggi yang diterapkannya atas produk China, karena menganggap Beijing tak punya itikad baik untuk memenuhi kesepakatan yang akan tercapai dalam waktu dekat.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply