Sterling Dibebani Lesunya Inflasi Maret dan Macetnya Brexit

Bonus Welcome Deposit FBS

Poundsterling menunjukkan performa beragam pada pertengahan sesi Eropa hari Rabu ini (17/4). Pasangan mata uang GBP/USD cenderung sideways dekat kisaran 1.3050-an dan GBP/JPY statis dekat level 146.17; sementara EUR/GBP naik 0.15 persen ke kisaran 0.8660. Meskipun minat risiko pasar global hari ini relatif tinggi, tetapi daya tarik Sterling masih suram karena buruknya data inflasi konsumen bulan Maret 2019 dan tetap sepinya perkembangan brexit.

Sterling Dibebani Lesunya Inflasi dan Macetnya Brexit

Dalam laporan yang dirilis tadi sore, Kantor Statistik Inggris menyebutkan bahwa Consumer Price Index (CPI) hanya mampu melaju 0.2 persen sepanjang bulan lalu, lebih rendah dibandingkan pencapaian 0.5 persen pada bulan Februari maupun estimasi awal untuk bulan Maret yang sebesar 0.3 persen. Akibatnya, pertumbuhan CPI tahunan tercatat tetap 1.9 persen saja, atau gagal memenuhi estimasi kenaikan 2 persen yang diharapkan oleh pelaku pasar dan bertahan pada posisi lebih rendah dari target bank sentral.

Lesunya laju inflasi itu diperkirakan bakal menjadi alasan tambahan bagi bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) untuk menunda rencana kenaikan suku bunga. Sebelumnya, pelaku pasar telah memperhitungkan ditundanya kenaikan suku bunga BoE sehubungan dengan diperpanjangnya deadline brexit dari 13 April menjadi 31 Oktober 2019, sehingga data ini tak berdampak terlalu besar. Meski demikian, data ini juga bukan katalis yang dapat melonjakkan Sterling.

Baca Juga:   Pentingnya Melihat Waktu Trading Saat Bermain di Pasar Forex

Di sisi lain, kasak-kusuk mengenai rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa (brexit) serta instabilitas politik domestik Inggris masih terus mewarnai pemberitaan media massa setempat. Headline terkini mengulas mengenai kebuntuan dalam diskusi antara PM Theresa May dengan kelompok oposisi, meski mereka telah berhari-hari menggelar perundingan lintas partai guna membahas kesepakatan brexit seperti apa yang paling baik diajukan kepada Uni Eropa. Pasalnya, oposisi bersikeras menginginkan “soft brexit”, bertentangan dengan aspirasi separuh anggota partai PM May sendiri yang menghendaki “hard brexit”. Sejalan dengan itu, pelaku pasar memasang mode “wait and see“.

Kim Mundy dari CBA mengatakan, “Selain karena faktor penurunan GBP/USD yang berhubungan dengan brexit, laporan-laporan media mengindikasikan negosiasi brexit antara pemerintah dengan pimpinan oposisi Jeremy Corbyn telah macet. GBP/USD akan tetap sensitif terhadap perkembangan brexit.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply