Sterling Dilanda Volatilitas Tinggi Karena Ketidakpastian Brexit

Bonus Welcome Deposit FBS

Semua pasangan mata uang yang berhubungan dengan Poundsterling mengalami volatilitas tinggi dalam perdagangan hari Selasa ini (12/3), dikarenakan tingginya ketidakpastian hasil voting brexit yang kemungkinan akan diketahui publik dalam beberapa jam ke depan. Pasangan GBP/USD sempat melonjak 1 persen pada sesi Asia, tetapi kemudian merosot nyaris 2 persen pada sesi Eropa. Saat berita ditulis, GBP/USD sudah mulai beranjak kembali dan diperdagangkan pada kisaran 1.3132.

Sterling Dilanda Volatilitas Tinggi Karena Ketidakpastian Hasil Voting Brexit

Kenaikan Poundsterling pada sesi Asia dilatarbelakangi oleh pernyataan Perdana Menteri Theresa May bahwa pihaknya telah berhasil memperbarui pasal-pasal terkait perbatasan Irlandia dalam draft kesepakatan brexit, seusai negosiasi panjang dengan Uni Eropa. Namun, rincian pembaruan tersebut rupanya tak mendukung ratifikasi draft kesepakatan brexit ini di parlemen Inggris.

Jaksa Agung Inggris, Geoffrey Cox, mengungkapkan bahwa pembaruan tersebut tak mengeliminasi risiko terbesar yang dikhawatirkan oleh kubu anti-Uni Eropa, yakni kemungkinan Inggris akan terjebak dalam pabean tunggal Uni Eropa untuk selamanya. Komentar pengacara paling senior di Inggris itu membuat sejumlah pihak gelisah.

Baca Juga:   Keuntungan Aussie Di Sesi Asia Karena Kongres Partai Tiongkok Mulai Keluar

Juru bicara partai DUP mengindikasikan kemungkinan untuk menolak draft tersebut, disusul oleh juru bicara kubu anti-Uni Eropa dari partai Konservatif. Artinya, PM Theresa May hampir pasti takkan memperoleh dukungan dari anggota parlemen dalam koalisinya sendiri, sedangkan anggota parlemen dari partai oposisi jelas bakal menolaknya.

Dengan demikian, investor dan trader masih pasang posisi “wait and see” menantikan hasil voting yang akan digelar malam ini. Bilamana draft yang diajukan oleh PM Theresa May ternyata disetujui, maka Inggris akan keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret. Namun, bila draft tersebut tak disetujui, maka parlemen Inggris kemungkinan mengadakan voting lagi pada hari tanggal 14 Maret mendatang.

Beberapa data ekonomi berdampak tinggi telah dirilis Inggris pada sore ini, termasuk Gross Domestic Product (GDP), produksi industri, produksi manufaktur, dan neraca perdagangan. Namun, hasilnya cenderung beragam dan diabaikan oleh pelaku pasar. GDP tumbuh 0.5 persen (Month-over-Month) sesuai ekspektasi, produksi industri dan manufaktur melejit, sementara neraca perdagangan Inggris lagi-lagi mengalami pembengkakan defisit pada bulan Januari 2019.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply