Sterling Lanjutkan Pelemahan Pasca Rilis PMI Jasa Februari 2019

Bonus Welcome Deposit FBS

Poundsterling terpantau mencatat pelemahan harian sebesar 0.1 persen pada kisaran 1.3169 menjelang akhir sesi Eropa hari Selasa ini (5/3). Rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) untuk sektor jasa mengungguli ekspektasi, tetapi gagal memperkuat posisi Sterling. Pasalnya, rincian komponen PMI mengungkapkan besarnya efek ketidakpastian Brexit terhadap sektor jasa Inggris.

Sterling Lanjutkan Pelemahan Pasca Rilis PMI Jasa

IHS Markit dan CIPS melaporkan bahwa PMI Jasa Inggris meningkat dari 50.1 menjadi 51.3 pada bulan Februari, alih-alih menurun ke 49.9 sebagaimana diekspektasikan sebelumnya. Namun, komponen ketenagakerjaan dalam survey tersebut mengalami kemunduran tercepat dalam lebih dari tujuh tahun terakhir.

Banyak perusahaan sektor jasa Inggris memutuskan untuk menunda rekrutmen karyawan baru sementara ketidakpastian Brexit terus berlanjut; sama dengan kondisi sektor konstruksi yang dilaporkan pada hari Senin. Sejumlah perusahaan juga menyebutkan bahwa klien-klien dari Eropa cenderung menunda-nunda komitmen bagi proyek baru. Pada gilirannya, penurunan pesanan mengurangi backlog pekerjaan dan berkontribusi pada rendahnya kebutuhan rekrutmen karyawan baru. Padahal, rendahnya ketenagakerjaan berpotensi menekan Poundsterling dalam jangka panjang, karena dapat menghalangi upaya bank sentral Inggris untuk menaikkan suku bunga pasca Brexit.

Baca Juga:   Outlook Mingguan NZD / USD : 03 - 07 Februari 2014

Chris Williamson, seorang ekonom dari IHS Markit, mengungkapkan, “Survey PMI terbaru mengindikasikan bahwa perekonomian Inggris masih dekat dengan stagnasi pada bulan Februari, walaupun ada kenaikan aktivitas di berbagai sektor menjelang jadwal keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Data menunjukkan bahwa perekonomian hanya akan tumbuh 0.1 persen pada kuartal pertama (tahun 2019.”

“Lebih buruk lagi akan terjadi ketika aktivitas persiapan menjelang Brexit berbalik. Banyak isu dan ketidakpastian terkait Brexit juga nampaknya akan terus beredar dalam beberapa bulan ke depan, bahkan walaupun kesepakatan yang diajukan PM May lolos. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global tetap lesu, meningkatkan latar belakang suram yang dihadapi masalah-masalah Inggris saat ini.”

“Konsekuensinya, optimisme para pebisnis tentang (kondisi ekonomi) setahun ke depan telah merosot ke level terendah dalam sejarah survei ini, kecuali pada saat puncak krisis finansial global dan Juli 2016 (sebulan setelah referendum Brexit). Kekhawatiran terkait Brexit mendominasi daftar alasan yang disebutkan oleh perusahaan-perusahaan sebagai penyebab memburuknya kinerja usaha.”

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply