Sterling Makin Tertekan Pasca Rilis Data GDP Inggris

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang GBP/USD bertahan di area bearish, setelah rilis data GDP Inggris yang lebih buruk dari ekspektasi pada pertengahan sesi Eropa hari ini (11/Februari). Poundsterling diperdagangkan di bawah 1.2950 versus Dolar AS, sementara EUR/GBP melonjak sekitar 0.10 persen ke sekitar 0.8749. Sterling hanya menguat terhadap Yen, karena bank-bank Jepang sedang tutup dalam rangka libur National Founding Day.

Sterling Makin Tertekan Pasca Rilis Data GDP Inggris

Menurut laporan kantor statistik nasional Inggris, Gross Domestic Product (GDP) Inggris merosot 0.4 persen (Month-over-Month) dalam bulan Desember 2018. Konsekuensinya, laju GDP pada kuartal empat tahun 2018 secara keseluruhan ikut terseret turun menjadi hanya tumbuh 0.2 persen (Quarter-over-Quarter) saja. Sementara itu, dalam basis tahunan, pertumbuhan ekonomi melandai dari 1.6 persen menjadi 1.3 persen.

Laporan tersebut menandakan buruknya kondisi ekonomi Inggris, mendekati deadline keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada tanggal 29 Maret mendatang. Sektor industri dan manufaktur dilaporkan mengalami kondisi terburuk dan skala usaha makin menciut. Selain itu, sektor jasa yang masih bertumbuh pada periode November, mendadak merosot pula pada bulan Desember.

Baca Juga:   Outlook Mingguan Perak / Tembaga / Emas Berjangka : 26 - 30 September 2016

Terlepas dari itu, Poundsterling tak menanggapi rilis data GDP ini secara fantastis. Bahkan, saat berita ditulis, Sterling sudah mulai menggeliat lagi. Kunci penggerak pasar saat ini masih terletak pada perkembangan negosiasi untuk tercapainya kesepakatan Brexit antara pihak-pihak terkait, padahal pelaku pasar masih bersilang pendapat mengenai proyeksi hasil akhir dan dampaknya bagi Poundsterling dalam jangka panjang.

Arne Anders Lohmann Rasmussen, pimpinan analis Danske Bank, mengatakan bahwa ia mengantisipasi penurunan sentimen atas Sterling dalam beberapa pekan ke depan, kecuali kalau ada penurunan signifikan pada risiko “No-Deal Brexit”.

“Kami mempertahankan penilaian bahwa dibutuhkan pengurangan risiko ‘No-Deal Brexit’ bagi EUR/GBP untuk menguji dan menembus ke bawah 0.86. Minat bagi GBP kemungkinan merosot lebih lanjut seiring tanggal 26 Februari (jadwal debat Parlemen tentang Brexit berikutnya) tanpa adanya sinyal kesepakatan antara Uni Eropa dan Inggris,” ungkap Rasmussen.

Hans Redeker dari Morgan Stanley memberikan pandangan berbeda. Ia tetap yakin kalau EUR/GBP bakal bearish, walaupun bank sentral Inggris telah merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonominya ke level terendah sejak tahun 2009.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply