Sterling Menguat, Tapi Risiko Brexit Masih Tinggi

Bonus Welcome Deposit FBS

Pada awal sesi Eropa hari Senin ini (3/Desember), Poundsterling menguat lebih dari 0.50 persen ke level 1.2818 terhadap Dolar AS. Pasangan mata uang GBP/JPY juga meroket 0.60 persen ke kisaran 145.46, mengikuti peningkatan minat risiko di pasar finansial global. Namun demikian, EUR/GBP masih stagnan pada kisaran 0.8866, sehubungan dengan masih kuatnya ketidakpastian terkait masalah rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Sterling Menguat, Tapi Risiko Brexit Masih Tinggi

Pertemuan para pejabat tinggi Uni Eropa pada pertengahan bulan November telah menyetujui proposal Brexit yang diajukan oleh Perdana Menteri Inggris Theresa May. Namun, proposal May tersebut justru menghadapi perlawanan kuat di dalam negeri, dan dikhawatirkan bakal ditolak oleh parlemen Inggris.

Pekan lalu, bank sentral Inggris merilis evaluasi atas sejumlah skenario, yang hasilnya menunjukkan bahwa Inggris akan mengalami perlambatan ekonomi dengan skenario Brexit manapun. Akibatnya, bukan hanya PM May menghadapi ancaman mosi tak percaya dari konstituennya sendiri, tetapi “pertempuran” untuk menghentikan Brexit juga dibawa lebih lanjut ke pengadilan Eropa (European Court of Justice/ECJ).

Baca Juga:   BERITA SAHAM JUMAT 30/11/2018 SIDO RAIH Rp250 MILIAR DARI PENGURANGAN MODAL MUNCUL MEKAR

Pada hari Selasa besok, ECJ akan menyampaikan opini mengenai apakah Inggris dapat memicu Article 50 (yang menjadi dasar keluarnya Inggris dari Uni Eropa) secara sepihak atau tidak. Opini ECJ tidak mengikat secara hukum, tetapi jika mereka menyatakan Inggris tak berhak memicu Article 50 secara sepihak, maka bisa memberikan alasan bagi Inggris apabila ingin menghentikan proses Brexit.

Menurut Yohay Elam dari ForexCrunch, kemungkinan adanya opsi itu saja dapat mendorong penguatan Pounds; sebaliknya, penolakan ECJ dapat mengakibatkan pelemahan atas mata uang ini.

Sejumlah data berdampak tinggi dari Inggris dijadwalkan akan dirilis dalam sepekan ke depan. Diantaranya Construction PMI, Services PMI, dan ekspektasi inflasi konsumen. Namun demikian, topik risiko Brexit masih menjadi aktor utama yang disoroti pasar terkait Poundsterling, dan sejauh ini belum ada sinyal mengenai kemana arah pergerakan selanjutnya dalam jangka menengah-panjang.

Selain itu, topik lain yang ramai diperbincangkan di pasar saat ini adalah “gencatan senjata” antara Amerika Serikat dan China di tengah perang dagang yang telah menyeret berbagai negara lain pula. Keputusan Donald Trump dan Xi Jinping untuk berkompromi dan melanjutkan negosiasi baru pada akhir pekan lalu, dinilai pasar sebagai sesuatu yang positif, hingga mendongkrak minat risiko dan mendorong penguatan pada mata uang-mata uang berisiko lebih tinggi, termasuk Poundsterling.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply