Mengenal Apa Itu Teknologi Blockchain

Bonus Welcome Deposit FBS

Sejak tahun 2000, mulai banyak teknologi baru bermunculan, salah satunya adalah penggunaan platform pembayaran digital, seperti teknologi PayPal yang sangat popular di kalangan masyarakat, bahkan masih digunakan sampai sekarang. Pada prinsipnya, pembayaran digital tersebut adalah perantara dua pihak atau lebih, yang akan bertransaksi.

Perbedaan Teknologi PayPal & Bitcoin

Perantara harus yang dapat dipercaya oleh orang yang melakukan transaksi, untuk melakukan verifikasi terhadap transaksi tersebut, mencatat dan menyerahkan biaya dari pembeli ke penjual. Sebenarnya pembayaran digital seperti teknologi PayPal ini mirip dengan penyelenggara transaksi ATM antar bank, seperti Link, Prima, ATM bersama, Maestro dan lainnya.

Kemajuan teknologi semakin berkembang, di tahun 2009 Satoshi Nakamoto mengeluarkan terobosan baru yang tidak bisa dianggap remeh, yaitu platform pembayaran digital baru yang bernama bitcoin. Tapi antara teknologi PayPal dan bitcoin ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok.

Pertama, teknologi PayPal dan platform sejenisnya menggunakan mata uang yang biasa dipakai oleh masyarakat. Pihaknya hanya sebagai perantara untuk melakukan transaksi elektronik. Seperti proses jual beli secara internasional yang umum dilakukan, standar mata uang yang biasanya diterima adalah US Dollar. Sedangkan bitcoin adalah sebuah mata uang bentuk digital, yang tidak diatur dan diakui oleh bank sentral dunia. Bahkan nilainya cenderung fluktuatif. Saat ini, nilai 1 bitcoin sebesar 8613.38 US $.

Jika anda berniat untuk memiliki bitcoin, ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu memperolehnya sebagai bayaran, membeli dan ‘pertambangan’ atau ‘mining’. Penambangan yang dimaksud disini bukan dalam artian sesungguhnya. Tapi artinya adalah memecahkan sebuah kunci dengan menggunakan serangkaian algoritma. Kunci tersebut nantinya dipakai untuk verifikasi transaksi.

Kedua, teknologi PayPal menggunakan pihak ketiga, sebagai perantara dalam transaksi, sedangkan bitcoin tidak memerlukannya. Sebagai gantinya, transaksi dengan memakai bitcoin akan diverifikasi dan dicatat pada sebuah sistem terdistribusi yang telah terenkripsi, demi menjaga keamanan dari tindak kejahatan yang tidak diinginkan. Sistem terdistribusi itulah yang disebut blockchain.

Konsep Teknologi Blockchain

Konsep Teknologi Blockchain

Jadi, arti blockchain berasal dari kata Block (kotak khusus) adalah sebuah batasan/ tempat/ area tertentu yang digunakan untuk menampung seluruh perubahan item/ transaksi selama proses chain. Sedangkan chain (rantai) adalah pencatatan berantai unik dan merupakan alur dari seluruh tahapan konsisten dari sebuah transaksi/ item.

Sifat dari teknologi blockchain yang open source membuatnya banyak dikembangkan oleh beberapa pihak untuk membuat berbagai cryptocurrency, selain bitcoin. Salah satu yang juga tak kalah tenar dibanding bitcoin adalah Ethereum. Pada tahun 2017, kedua cryptocurrency itu sudah mempunyai kapitalisasi pasar mencapai miliaran USD.

Umumnya, dalam sistem keuangan yang berlaku, semua transaksi uang masuk, keluar serta perpindahannya akan tercatat dalam suatu buku besar/ general ledger. Hal itu diperlukan, agar tidak ada uang yang hilang, terjamin aman serta tercatat dengan benar. Saat menggunakan platform pembayaran digital seperti ATM bersama, PayPal dan lainnya, yang melibatkan institusi keuangan berbeda, maka pihak yang bertanggung jawab untuk mencatat transaksi adalah perantara.

Pada penerapan sistem itu, ada satu buku besar yang dijadikan sebagai catatan semua transaksi, yang dikelola oleh penyedia platform. Jika ingin melihat proses transaksi yang anda lakukan, maka perlu meminta kepada perantara tersebut. Pemusatan data yang hanya dipegang 1 pihak memang memiliki poin tambahan. Tapi juga mempunyai kelemahan. Contohnya adalah terjadinya peretasan atau pembobolan yang dilakukan orang tidak bertanggung jawab, untuk memperoleh keuntungan. Maka hacker tersebut bisa saja melakukan modifikasi terkait data yang ada.

Hal ini berbeda dengan teknologi blockchain. Karena platform ini menghilangkan adanya perantara. Tidak ada 1 buku besar yang berisi pencatatan transaksi, tapi transaksi yang dilakukan itu akan terdistribusi ke dalam jaringan komputer orang yang terlibat, dan buku besar itu bersifat identik. Bahkan semua transaksi yang dilakukan, perlu diumumkan untuk diverifikasi oleh semua komputer, sebelum disahkan.

Transaksi yang telah diverifikasi, akan ditaruh di blok-blok terenkripsi, yang akan ‘dirantai’ permanen dengan blok transaksi sebelum dan sesudahnya. Hal itulah yang menyebabkan sistem ini disebut blockchain. Proses pencatatan transaksi akan terdistribusi dan terikat pada rantai blok yang terenkripsi, sehingga membuat teknologi blockchain sangat aman dari para peretas. Karena memerlukan kelihaian dan kemampuan tinggi, untuk dapat membobol sistem keamanan sistem ini.

Hambatan pertamanya ada di blok transaksi yang terenkripsi. Jika ada hacker yang ingin menerobos, maka harus meretas blok transaksi sebelum dan sesudah. Artinya, orang tersebut sama dengan menghack seluruh blok transaksi yang telah dilakukan, karena saling terkait, satu dengan lainnya.

Rintangan yang kedua, pencatatan transaksi identik yang melibatkan banyak server yang ada di dunia, jika berhasil membobol 1 salinan blockchain, maka hacker itu juga harus bisa memperoleh verifikasi dari server penyedia salinan blockchain yang lain. Karena itulah peretasan dalam sistem ini hampir tidak mungkin untuk dilakukan, karena memiliki tingkat keamanan yang sangat tinggi dan rumit untuk dapat ditembus.

Walaupun begitu, seiring waktu dan makin banyaknya pengguna yang melakukan transaksi, maka memerlukan sumber daya dan kemampuan komputasi yang mumpuni. Tapi ternyata hal ini juga telah difikirkan oleh Satoshi Nakamoto, dengan membuat teknologi blockchain sebagai suatu sistem yang terdistribusi.

Beragam Level Teknologi Blockchain

Penggunaan teknologi blockchain makin marak dilminati oleh pengguna internet di seluruh dunia. Pembicaraan terkait hal ini makin santer terdengar dimana-mana dan menjadi topik yang menarik. Bahkan tema mengenai teknologi ini telah dibahas secara khusus di World Economic Forum 2018 yang diselenggarakan di Davos, Swiss. Dalam forum internasional penting tersebut, pihaknya sampai mengundang CEO Guiyang Blockchain Financial Co. Ltd. dan pendiri ACChain Digital Asset Smart- Ecosystem, Wan Jia.

Berdasarkan penuturan Wan Jia, keunggulan teknologi blockchain dibagi menjadi beberapa level, yaitu:

  • Blockchain 1.0.

Dalam konseptual, koin seperti Bitcoin, yang didasarkan pada apa pun kecuali kelangkaan dan bukti karya

  • Blockchain 2.0.

Koin yang mewakili partisipasi aktual dalam aktivitas atau usaha yang sedang berjalan

  • Blockchain 3.0.

Lebih dari itu, koin dalam asset dunia nyata, berwujud ataupun tidak, yang memiliki nilai kuantitatif setiap saat, satu item satu kode. Blockchain 3.0 disebut uang koin karena memiliki nilai financial yang dapat diindetifikasi, walaupun bukan mata uang resmi yang dikeluarkan negara.

Sekarang ini, menggunakan teknologi blockchain, para pengguna dapat melakukan transaksi virtual kepada siapapun (yang juga menggunakan platform itu), dari manapun, tanpa adanya campur tangan dari perantara atau pihak ketiga. Proses transaksinya juga berlangsung sangat cepat, sangat aman dan sangat murah, bila dibandingkan dengan sistem konvensional yang umum dilakukan saat ini. Ketika baru mempelajari blockchain dan bitcoin, wajar jika merasa bingung. Tapi ketika sudah belajar dengan baik, anda akan tahu bahwa sebenarnya blockchain ini adalah sebuah teknologi yang sederhana dan simple.

Silahkan Beri Penilaian pada artikel ini:

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading...

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Reply