Upaya Rebound Dolar Dihalangi Kemerosotan Durable Goods Orders

Bonus Welcome Deposit FBS

Indeks Dolar AS (DXY) terbanting ke level 96.17 lagi pada pertengahan sesi New York hari ini (26/6), meski sempat menanjak pada sesi Asia. Sejumlah mata uang mayor juga mulai menguat lagi versus Greenback, karena data Durable Goods Orders yang lebih buruk dibanding ekspektasi. Pasangan mata uang EUR/USD meningkat 0.1 persen ke level 122.47, walaupun USD/JPY masih mencatat kenaikan 0.45 persen di kisaran 107.64.

Upaya Rebound Dolar Dihalangi Kemerosotan Durable Goods Orders

Tadi pagi, Greenback sempat mencuat karena Ketua Fed Jerome Powell dan Presiden Fed St Louis James Bullard menyampaikan pidato yang nyaris senada mengenai perlunya pemangkasan suku bunga secara moderat saja dan tak seagresif perkiraan saat ini. Bahkan, Bullard secara eksplisit menyatakan bahwa pemangkasan bisa jadi bukan 50 basis poin sebagaimana diinginkan oleh pelaku pasar. Pernyataan mereka sempat mendongkrak tipis optimisme pasar, tetapi kemudian dimentahkan oleh data ekonomi AS yang terbaru.

Biro Sensus AS melaporkan bahwa pesanan barang tahan lama (Durable Goods Orders) anjlok sebesar 1.3 persen (Month-over-Month) pada bulan Mei, setelah merosot 2.8 persen pada periode sebelumnya. Padahal, sebelumnya pasar memperkirakan data ini akan mencatat pertumbuhan nol persen saja.

Baca Juga:   Pound Tergelincir Lebih Rendah Terhadap Dolar AS Yang Kuat

Kemerosotan ini disebabkan oleh tumbangnya pesanan pesawat akibat berkepanjangannya blokade atas tipe pesawat MAX buatan Boeing di berbagai negara. Terbukti dengan kenaikan komponen data Durable Goods yang mengecualikan produk pesawat dan pertahanan sebesar 0.4 persen (Month-over-Month) dalam kurun waktu yang sama, atau pulih sedikit dari penurunan 1 persen pada bulan April.

Rangkaian data Durable Goods Orders ini gagal menenangkan kekhawatiran pasar mengenai perlambatan pesanan investasi bisnis akibat konflik dagang global, sekaligus mengembalikan sorotan pasar ke agenda pertemuan G20. Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan menambah tarif impor atas produk Made in China lagi, apabila ia gagal mencapai suatu kesepakatan dengan Presiden Xi Jinping dalam ajang yang akan diadakan tanggal 28-29 Juni mendatang tersebut. Namun, para analis mencatat bahwa keduanya sempat berunding dan memberikan sinyal damai dalam pertemuan G20 tahun lalu, tetapi toh upaya negosiasi berakhir nihil dan dibubarkan pada bulan lalu.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply