US Durable Goods Orders Menurun Akibat Kasus Boeing dan Perang Dagang

Bonus Welcome Deposit FBS

Kemerosotan Dolar AS terakselerasi lagi pada sesi New York hari Jumat ini (24/5), setelah pertumbuhan pesanan barang tahan lama (US Durable Goods Orders) dirilis jauh lebih rendah dibandingkan estimasi awal. Saat berita ditulis, posisi indeks Dolar AS (DXY) telah melorot hingga level 97.65, sementara EUR/USD justru mendaki 0.2 persen ke level 1.1204 dan GBP/USD melesat 0.3 persen ke kisaran 1.2693. Mata uang mayor lainnya pun sukses rebound dan melumpuhkan Greenback, karena memburuknya data ekonomi kali ini dinilai menggambarkan imbas perang dagang yang lebih signifikan bagi perekonomian negeri Paman Sam.

US Durable Goods Orders Menurun Akibat Kasus Boeing dan Perang Dagang

Biro Sensus AS melaporkan bahwa Core Durable Goods Orders tidak mengalami pertumbuhan sama sekali selama bulan April, padahal sebelumnya diharapkan akan naik 0.2 persen. Sementara itu, data periode Maret malah direvisi turun menjadi -0.5 persen (Month-over-Month) saja. Data utama Durable Goods Orders bahkan tumbang lebih jauh lagi dengan mencatat laju -2.1 persen (Month-over-Month) pada bulan April; atau merosot lebih dalam dibandingkan ekspektasi yang dipatok pada -2.0 persen.

Baca Juga:   Euro Sedikit Berubah Terhadap Dolar Dalam Perdagangan Yang Tenang

Buruknya rekor Durable Goods Orders disinyalir berhubungan dengan jatuhnya pesanan pesawat bagi Boeing yang belum mampu menutup jejak model maut 737 Max. Selain itu, nampak pula terjadinya penurunan investasi bisnis secara umum. Data-data ekonomi ini kian meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai dampak perang dagang terhadap perekonomian Amerika Serikat, karena sama pesimisnya dengan rilis data New Home Sales dan indeks PMI Manufaktur yang amat mengecewakan pada hari Kamis.

“Ini adalah laporan bulan April. Perang dagang terakselerasi (lagi) pada bulan Mei. (Jadi) sudah hampir pasti pelemahan ekonomi akan terjadi,” kata pimpinan ekonom FTN Financial, Chris Low, sebagaimana dikutip oleh Marketwatch. Ia dan banyak ekonom lain telah memprediksi kalau pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) Amerika Serikat bakal melambat pada kuartal kedua tahun 2019.

Selaras dengan perkembangan tersebut, ekspektasi pasar mengenai prospek pemangkasan suku bunga Fed pun bertambah. Hal ini dapat ditilik dari kemerosotan drastis yield obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahunan hingga 0.15 persen ke level 2.33 persen, padahal baru Oktober lalu mencapai rekor tertinggi 7 tahunnya.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply