US Durable Goods Orders Jeblok, Sektor Manufaktur AS Resesi

Bonus Welcome Deposit FBS

Rilis data pesanan barang tahan lama AS (US Durable Goods Orders) hari ini menunjukkan rekor yang mengecewakan. Dolar AS tetap relatif kuat terhadap mata uang mayor lain, karena pelaku pasar tengah menantikan perkembangan dalam upaya negosiasi dagang antara Washington dan Beijing. Namun, sektor manufaktur AS dinilai sudah memasuki masa resesi teknikal.

US Durable Orders Jeblok

Departemen Perdagangan AS mengumumkan bahwa Durable Goods Orders mengalami kenaikan 2.1 persen (Month-over-Month) dalam bulan Juli 2019, lebih tinggi dibandingkan estimasi kenaikan 1.1 persen yang dipatok oleh konsensus ekonom. Akan tetapi, rincian dalam laporan tersebut jauh lebih lemah dibandingkan skor utama.

Kenaikan pesanan terutama disokong oleh lonjakan pesanan pesawat dan suku cadang hingga 47.8 persen yang diterima oleh Boeing. Namun, di luar sektor transportasi, pesanan Durable Goods justru merosot 0.4 persen. Ini merupakan penurunan terparah sejak bulan Maret 2019.

Parameter penting lainnya, pesanan untuk barang modal non-pertahanan, mengalami kenaikan 0.4 persen pada bulan Juli. Namun, skor bulan sebelumnya malah direvisi turun dari 1.5 persen menjadi 0.9 persen saja. Akibatnya, kenaikan pesanan yang diterima oleh sektor ini tercatat -0.3 persen secara Year-on-Year. Pengiriman untuk barang modal non-pertahanan juga tercatat -0.7 persen dalam bulan Juli; penurunan terparah sejak bulan Oktober tahun 2016.

Baca Juga:   USD / CAD Naik Ke Tertinggi 6 Minggu Di Awal Perdagangan

Dilansir dari MarketWatch, “sektor manufaktur Amerika Serikat saat ini mengalami resesi teknikal, bergumul dengan konflik dagang, perlambatan global, dan apresiasi Dolar. Para ekonom menilai pesanan barang modal kemungkinan akan lemah pada kuartal ketiga (tahun 2019).”

Terlepas dari sentimen negatif yang muncul dari laporan Durable Goods Orders kali ini, Indeks Dolar AS stabil di kisaran 97.96. Greenback juga mempertahankan penguatannya versus tiga mata uang mayor utama lainnya; Yen Jepang, Euro, dan Pound. Investor dan trader agaknya masih berfokus pada isu perundingan dagang yang menurut Presiden AS Donald Trump akan kembali digelar sesuai dengan permohonan China. Namun, sejumlah analis cenderung pesimis mengenai prospek tercapainya kesepakatan antara kedua negara, mengingat baik AS maupun China saat ini sama-sama diambang penerapan kenaikan tarif impor baru bagi satu sama lain.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply