USD/JPY Bentuk Gap Setelah Serangan Terhadap Kilang Minyak Saudi

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang USD/JPY dibuka merosot dalam perdagangan hari ini (16/9), karena serangan terhadap kilang minyak Arab Saudi yang disinyalir dilakukan oleh Iran. Posisi Greenback menguat pada sesi Eropa, tetapi belum mampu menutup gap yang terbentuk pagi tadi. Saat berita ditulis pada pembukaan sesi New York, USD/JPY diperdagangkan sekitar level 107.83.

USDJPY Bentuk Gap Setelah Serangan Terhadap Kilang Minyak Saudi

Minat beli terhadap aset-aset safe haven mendadak melonjak tadi pagi, sementara harga minyak meroket hingga lebih dari 15 persen. Pasalnya, dua fasilitas kilang minyak milik Saudi Aramco diserang oleh kelompok Houthi yang berseteru dengan Saudi di Yaman. Salah satu kilang tersebut merupakan Abqaiq, instalasi pengolahan minyak terbesar dunia.

Amir Hassan Al-Nasser, CEO Saudi Aramco, mengatakan kepada Saudi Press Agency bahwa serangan tersebut tak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Namun, dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan aktivitas produksi, sehingga sekitar hampir 6 persen suplai global bakal menghilang dari pasaran untuk sementara waktu.

Walaupun kelompok Houthi menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut, tetapi Amerika Serikat menuding Iran-lah yang sebenarnya bertanggung jawab. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan siap melakukan serangan balasan, sembari mengungkapkan rencana untuk membuka persediaan minyak strategi AS guna menambal defisit suplai minyak global.

Baca Juga:   Berita Saham BSDE RABU 28/02/2018

Analis dari ANZ Bank mengatakan kepada Reuters, “Risiko geopolitik dan retorika bank sentral masih menjadi penggerak utama pekan ini.”

Sejumlah bank sentral utama dunia dijadwalkan merilis pengumuman suku bunga dalam beebrapa hari ke depan, termasuk Bank of Japan (BoJ) dan Federal Reserve. Keduanya diperkirakan bakal memangkas suku bunga lebih lanjut, tetapi masih ada ketidakpastian soal seberapa dovish-kah kebijakan mereka kelak. Akibatnya, pair USD/JPY dan cross Yen lain menjadi sorotan utama dalam perdagangan sepekan ke depan.

Sementara itu, dampak perang dagang menjadi bahan perbincangan hangat lagi. Perdana Menteri China memaparkan sulitnya mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen di tengah maraknya proteksionisme. Data produksi industri China terbaru juga mengecewakan, karena hanya tumbuh 4.4 persen (Year-on-Year) pada bulan Agustus, level terendahnya sejak tahun 2002.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply