Yen Dihimpit Perlambatan GDP Jepang dan Minat Safe Haven

Bonus Welcome Deposit FBS

Yen diperdagangkan dengan volatilitas cukup tinggi hari Senin ini (10/Desember), karena pelaku pasar dihadapkan pada data ekonomi Jepang yang buruk dan penurunan minat risiko sekaligus. Data Gross Domestic Product (GDP) Jepang yang mengecewakan biasanya berdampak bearish terhadap Yen, tetapi permintaan atas Yen sebagai mata uang Safe Haven di pasar uang mencegah penurunan lebih parah.

Saat berita ditulis pada awal perdagangan sesi Eropa, pasangan mata uang USD/JPY mengambang dekat harga pembukaan sesi Asia di kisaran 112.640, setelah sempat anjlok hingga 112.24. Di sisi lain, EUR/JPY menanjak 0.25 persen ke 128.63, dan GBP/JPY menurun 0.10 persen ke 143.29.

Yen Dihantam Perlambatan GDP Jepang

Tadi pagi, Kantor Kabinet mengumumkan bahwa GDP Jepang mencatat -0.6 persen (Quarter-over-Quarter) pada kuartal III/2018, lebih buruk dibandingkan -0.3 persen pada kuartal sebelumnya maupun angka -0.5 persen yang diperkirakan ekonom. Laju GDP Tahunan secara keseluruhan pun anjlok dari -1.2 persen menjadi -2.5 persen.

Data Neraca Transaksi Berjalan yang dirilis nyaris bersamaan juga mencatat penurunan surplus dari 1.822 Triliun menjadi 1.310 Triliun, padahal sebelumnya diperkirakan akan naik ke 1.384 Triliun.

Baca Juga:   Dolar Hampir Tidak Berubah Terhadap Mata Uang Utama Lainnya Hati-Hati Dalam Perdagangan

Rentetan data ini mengindikasikan bahwa kebijakan moneter longgar yang diterapkan oleh bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) belum akan berakhir dalam waktu dekat. Biasanya, indikasi seperti ini akan menekan Yen. Namun, para investor juga mulai was-was menghadapi eskalasi perdagangan AS-China dan potensi dampaknya pada pertumbuhan global, sehingga mendorong kenaikan permintaan mata uang-mata uang Safe Haven.

Walaupun Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping telah menyepakati “gencatan senjata” selama 90 hari pada awal bulan ini, tetapi ketegangan bergolak kembali minggu lalu setelah penangkapan Meng Wanzhou, CFO Huawei, di Vancouver atas permintaan Amerika Serikat. Figur top di perusahaan teknologi terbesar China tersebut dicekal atas tuduhan pelanggaran sanksi AS atas Iran, tetapi pelaku pasar khawatir kalau tindakan AS ini menyiratkan keengganannya untuk berkompromi dengan China.

“Kita punya peningkatan ketegangan antara AS dan China tentang Huawei dan voting Brexit di parlemen Inggris (yang dijadwalkan digelar pekan ini). Kecenderungan menghindari risiko kemungkinan akan bertahan untuk saat ini,” ujar Kyosuke Suzuki, direktur forex di Societe Generale.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply