Yen Menguat Akibat Permintaan Safe Haven, Meski Pengangguran Meningkat

Bonus Welcome Deposit FBS

Yen melejit pada awal perdagangan sesi Asia hari ini (28/12) dengan USD/JPY anjlok 0.36 persen ke level 110.64, meskipun data ekonomi Jepang cenderung beragam. Pasalnya, minat risiko pasar anjlok hingga mendorong tingginya permintaan atas aset-aset Safe Haven seperti Yen. Kekhawatiran pelaku pasar mengenai perlambatan ekonomi dunia kembali muncul pasca rilis data sentimen konsumen AS dan beredarnya rumor akan sanksi ekonomi baru yang akan diterapkan AS atas China.

Yen Menguat Akibat Permintaan Safe Haven

Tadi pagi, biro statistik Jepang melaporkan bahwa Consumer Price Index (CPI) Tokyo mengalami kenaikan 0.3 persen (year-on-year) dalam bulan Desember, sesuai dengan ekspektasi sebelumnya. Data Jobs/Application Ratio juga sesuai perkiraan, stagnan pada level 1.63. Produksi Industri masih -1.1 persen (month-over-month) pada bulan November, tetapi lebih baik dibandingkan perkiraan -1.7 persen.

Di sisi lain, tingkat pengangguran Jepang meningkat dari 2.4 persen menjadi 2.5 persen. Penjualan ritel di negeri Sakura juga hanya tumbuh 1.4 persen (year-on-year) pada bulan November; turun dari 3.6 persen pada periode sebelumnya dan lebih rendah dibanding ekspektasi awal 2.2 persen.

Baca Juga:   Pound Tergelincir Lebih Rendah Terhadap Dolar AS Yang Kuat

Rangkuman notulen rapat bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) yang baru saja dipublikasikan pun menyebutkan beraneka indikasi peningkatan risiko ekonomi yang terus berlanjut. Lebih dari itu, BoJ mengakui bahwa outlook inflasi masih belum jelas. Dengan kata lain, kebijakan moneter ultra-longgar dari bank yang dipimpin oleh Haruhiko Kuroda itu kemungkinan bakal dipertahankan dalam kurun waktu lebih lama lagi.

Terlepas dari laporan-laporan berdampak kecil-menengah tersebut, penguatan Yen terutama didorong oleh kemerosotan minat risiko pasar, setelah data CB Consumer Confidence di Amerika Serikat dikabarkan anjlok ke level terburuk dalam tiga tahun terakhir. Laporan tersebut mengobrak-abrik pasar saham AS, setelah indeks Dow Jones sempat reli 1,000 poin sehari sebelumnya.

Sementara itu, kantor berita Reuters melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan sebuah perintah eksekutif (executive order) untuk mengumumkan kondisi darurat nasional sebagai dasar guna melarang perusahaan-perusahaan AS menggunakan produk dari Huawei Technologies dan ZTE. Kedua perusahaan tersebut merupakan korporasi bidang teknologi top kebanggaan China, sehingga pengumuman tersebut dinilai sebagai halangan baru dalam upaya rekonsiliasi kedua negara di bidang perdagangan.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply