Yen Menguat, Gubernur BoJ Peringatkan Ancaman Instabilitas Keuangan

Bonus Welcome Deposit FBS

Pasangan mata uang USD/JPY menurun tipis 0.06 persen ke level 112.75 pada sesi Eropa hari Senin ini (19/November), memantapkan posisi terendah sebulannya di tengah meningkatnya kecemasan pasar mengenai dampak eskalasi konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Namun demikian, pidato Gubernur Bank of Japan (BoJ), Haruhiko Kuroda, yang disampaikan tadi pagi menyiratkan masih rawannya kondisi perekonomian negeri yang beribukota di Tokyo itu.

Yen Menguat, Gubernur BoJ Peringatkan Ancaman Instabilitas Keuangan

Dalam sebuah seminar, Haruhiko Kuroda memperingatkan bahwa penurunan keuntungan di bank-bank regional secara terus-menerus berpotensi men-destabiliasasi sistem keuangan Jepang. Penurunan keuntungan itu sendiri disebabkan oleh kebijakan suku bunga rendah yang berkepanjangan, penyusutan populasi, serta anjloknya jumlah perusahaan yang beroperasi di daerah.

“Kita perlu memikirkan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul, termasuk tekanan penurunan pada perekonomian riil (yang bersumber) dari sistem keuangan,” ujar Kuroda. Lanjutnya lagi, “Apabila manajemen risiko yang dibutuhkan tidak dilaksanakan…biaya pinjaman bisa meningkat tajam dan stabilitas sistem keuangan bisa terancam” dalam situasi shock ekonomi yang parah.

Terlepas dari risiko tersebut, pimpinan bank sentral Jepang tersebut menegaskan kembali bahwa mereka akan tetap mempertahankan kebijakan moneter longgar, karena inflasi masih jauh dari target 2 persen.

Baca Juga:   Saham TRIM SENIN 02/04/2018 ( Berita Saham )

Pidato Kuroda ini agak diabaikan oleh pelaku pasar, karena kabar yang lebih menghebohkan muncul dari event pertemuan tingkat tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para pemimpin negara yang tergabung dalam APEC gagal mencapai kesepakatan mengenai komunike bersama, karena Presiden China Xi Jinping dan Wapres AS Mike Pence bersilang pendapat mengenai apakah “World Trade Organisation (WTO) dan reformasi WTO” harus masuk dalam komunike yang sedianya akan menjadi deklarasi bersama para pemimpin APEC atau tidak.

Tak hanya itu saja. Xi dan Pence juga adu mulut secara terbuka mengenai inisiatif pembiayaan pembangunan infrastruktur (Belt and Road Initiatives) yang ditawarkan China pada berbagai negara miskin, serta kebijakan proteksionisme AS yang ditegakkan dengan asas “American First”. Serangkaian drama di pertemuan tingkat tinggi APEC ini membuat pelaku pasar mewanti-wanti perkembangan selanjutnya dalam konflik perdagangan antara AS dan China.

Klik icon-icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini
Analisaforex.com di Google Play Store

Leave a Reply